[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (10)*

Dinda sudah siuman dan aku mengajaknya untuk sekadar ngobrol, sebab dia sudah tenang. 

Obrolan pun dilanjutkan setelah beberapa menit lamanya dia bertarung melawan setan yang merasuk jiwanya.

“Embot, nama asliku Monalisa Dayana. Aku anak bungsu dari enam bersaudara,” ungkapnya.

Saat mendengar itu, aku semakin konsen pada tiap ucapannya. Tak boleh kulewatkan satu kata pun. Ini ibarat ruang pengakuan. Dia mulai menyingkap tabir drama yang dibuatnya. Sebab selama ini aku hanya mendengar cerita dari Kak Reta dan Sedis.

“Kami enam bersaudara. Dua perempuan dan empat laki-laki. Kakak perempuanku tinggal di Jakarta,” ujar Dinda.

Begitu susahnya dia ke Kalimantan. Dia terpaksa menyamar jadi orang lain. Rambutnya dipotong pendek untuk mengelabui keluarga dan petugas bandara. 

Hal itu dilakukan sebab keluarga sudah membuat semacam tim khusus, untuk mencegah niatnya ke Kalimantan. Kabar tentang kaburnya sudah tersiar hingga bandara dan pelabuhan. Siapa pun yang menemuinya harus memulangkan dia kepada pihak keluarga.

“Tapi demi kamu aku rela memotong rambutku. Kamu yang membuatku lupa diri,” kata Dinda.

Aku diam saja. Kali ini aku lebih banyak mendengar daripada merespons tiap ucapannya. Bagiku mendengar dengan setia adalah pintu masuk menuju kejujuran.

“Terus terang Embot, aku sudah punya anak tiga orang. Semuanya laki-laki. Satu SMA, satunya lagi masih SMP dan yang bungsu masih SD,” katanya.

“Aku belum cerai. Nama suamiku Rozky, keturunan Cina. Bapaknya jadi kepala rumah sakit,” lagi Dinda berujar.

Aku terus mendengar dia. Sunyi sepi menyelimuti kami. Hanya suaranya yang menggema di tiap sudut hati.

“Aku punya dua rumah. Satu di daerah dan satu di kota yang saudaramu tinggal,” kenangnya.

Sedis sudah berhenti bekerja di rumahnya setelah Dinda memutuskan pergi ke Kalimantan. Entahlah masalahnya. Aku belum mengkonfirmasi si Sedis. 

Tapi Dinda menduga alasannya adalah aku. Sedis tidak tega melihat sepupunya berhubungan dengan bosnya yang jelas-jelas perempuan kaya raya beranak tiga yang ditinggal suami.

“Aku sayang sama kamu, Embot. Bahkan aku rela menjadi istri kedua buat kamu,” katanya.

Dinda tak memberi tahu kenapa dia tergila-gila padaku. Sulit memberikan alasan yang spesifik. Padahal aku tidak punya apa-apa. 

Dia tahu aku ini miskin harta. Dia juga tahu semua tentang aku, sebab dia sering menelepon keluargaku di kampung. Apakah ini yang dinamakan cinta itu buta? 

Baca juga:

[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (9)*

“Sejak awal aku kenal kamu via telepon. Sejak saat itu, dalam otakku hanya kamu, kamu, dan kamu terus. Aku seperti seseorang yang kehilangan arah, dan hanya satu tujuanku yaitu kamu,” ungkapnya sambil menyeka air mata.

“Aku dua kali ke pengadilan di kotaku. Mau ceraikan si Rozky. Uangku habis hanya karena bolak-balik ke sana. Aku mau menceraikan dia bukan karena kamu. Jauh sebelum mengenal kamu, aku sudah mengurus perceraian. Dia sudah beberapa kali berbohong. Dia sering memukulku apabila aku menegurnya, karena dia sering membawa perempuan lain di rumah. Aku tidak melarangnya untuk berselingkuh, asalkan jangan membawa perempuan itu ke rumah dan seranjang di kamar pribadi kami. Dia sering mengelaknya. Tapi terakhir aku memergokinya sedang asyik berhubungan badan dengan perempuan itu. Hati perempuan mana yang tahan kalau punya suaminya seperti itu, Embot!!!”

Aku mendengar suaranya bergetar. Itu bukan karena kerasukan. Tapi dia betul-betul mengenang setiap detail pengalaman tragisnya. Matanya berkaca-kaca, sedangkan aku terus menjadi pendengar setia.

“Dan aku minta izin ke Leni. Itu pun kalau dia mengizinkan aku jadi yang kedua. Walaupun dia menolaknya biarkan aku jadi adiknya,” ucap Dinda lagi.

“Aku bangga sama kamu karena kamu begitu tulus. Tidak semua laki-laki seperti kamu, Embot. Aku bersyukur ternyata kamu dan Leni belum sah jadi suami-istri. Kamu menutupnya karena tidak ingin melukai seseorang. Aku lahir tahun 1980 Embot,” kata Dinda dengan wajah yang digenangi air mata.

Lalu dia menjeda ucapannya. Tangannya menyentuh dada sambil terpejam.

“Bukanya sombong, Embot. Aku ini seorang kaya raya. Aku bisa membeli apa saja apa yang kamu mau,” katanya.

Aku tersenyum dan dia menatapku. Kulihat kegembiraan di wajahnya. Dia sudah mengungkap semua pengalamannya. 

Perempuan memang butuh didengarkan. Ketika aku konsen mendengarnya, dia meluapkan semua isi hatinya, termasuk pengalaman buruk masa lalu dan harapannya.

Mulai saat ini aku tidak memanggilnya Dinda. Ada perasaan haru bercampur minder terhadap kejujurannya. Kejujuran itu susah dan tidak semua manusia jujur menceritakan pengalaman pahit dan aibnya. Tapi Dinda beda.

Tiga hari kemudian dia mengajakku ke Sulawesi setelah dua minggu lamanya tinggal bersamaku. 

“Embot!! Besok kita pulang ke Sulawesi, ya. Aku mau ke pengadilan untuk segera melanjutkan urusan perceraian kami. Setelah itu kita akan hidup bersama selamanya. Kamu mau kan??” Katanya.

“Kamu duluan pulang, ya. Aku khawatir keluargamu membunuhku,” jawabku.

“Embot, aku akan menyembunyikan kamu di sana. Aku akan melakukan apa saja untuk melindungimu. Jikalau keluargaku membunuhmu, mereka harus membunuh aku terlebih dahulu, karena aku yang mendatangi kamu, bukan kamu yang mencuri aku,” jawabnya.

“Kita pulang besok. Kamu harus percaya padaku. Aku bertanggung jawab atas nyawamu,” katanya lagi.

“Begini saja, kamu pulang besok dan aku akan mengantar ke Balikpapan, lalu aku kembali. Jika urusanmu di Sulawesi selesai aku menyusul,” kataku memberi solusi.

Dia menyetujui usulanku. Sebelum pulang dia membeli beras, rokok, dan semua kebutuhan kami selama satu sampai dua bulan ke depan. Dia bahkan bersikukuh membeli genset tetapi aku menolaknya.

Matahari pagi bersinar indah. Semakin naik ke ubun-ubun dan awan tipis mengitarinya di langit biru. Tapi aku dan dia baru ke Samarinda saat matahari pukul enam sore kembali ke peraduannya. 

Malam ini kami menginap di Samarinda sambil menunggu jadwal pesawat ke Pulau Celebes. 

“Kita jalan-jalan dulu,” pintanya.

Aku mengiyakan ajakannya untuk melihat kota Samarinda malam ini. Samarinda akan kukenang. Dia kan menjadi prasasti di loh hati menjadi saya merindukan Dinda atau Samarinda

“Eh, baju ini cocok untukmu,” katanya sambil menunjuk pakaian di salah satu supermarket.

Tak hanya itu, dia juga membelikan aku HP baru, dan mengajakku untuk mengontrak rumah di Samarinda sampai urusan perceraian selesai. Tapi aku menolaknya. Aku harus pulang ke Kembang Janggut.

“Kalau begitu kamu harus pulang sekarang, Embot. Nanti aku menghubungimu jika sudah tiba di Sulawesi,” katanya.

Gak apa-apa. Aku harus pulang begitu kamu sudah di pesawat. Biar kita sama-sama berpisah di sini,” jawabku.

Ga usah, Embot. Biar kamu duluan saja ya,” pintanya.

Aku mengalah dan pulang lebih dulu. Kami berpisah. Aku pun kembali ke Kembang Janggut.

Pukul 11 malam rasa rindu muncul lagi. Bayangan Dinda tak pernah pergi dari ingatanku. Sampai-sampai tak sadar air mataku berderai di pipi. 

Lalu aku meneleponnya.

“Embot, kenapa kamu telepon aku, emang kamu di mana?” Katanya saat kutelepon.

“Aku masih dalam perjalanan dan aku merindukanmu,” jawabku.

“Ah, Embot jangan bercanda deh. Aku tidak percaya,” katanya.

“Jangan bercanda ah,” katanya lagi.

“Bercanda gimana. Aku serius loh,” jawabku. 

“Embot, kamu masih di kamar kecil kan!!! Atau aku dobrak pintu kamarnya,” katanya lagi.

“Memang siapa di kamar kecil itu?” Jawabku.

Lalu Dinda menuju kamar kecil untuk membuktikan dimana aku sebenarnya. Dia hendak mendobrak pintu, tapi mendapati pintu masih terbuka. 

“Lah, siapa yang dari tadi sama aku, Embot? Barusan kamu kan yang minta pamit ke aku izin ke kamar kecil?” Katanya lagi.

Aku kaget mendengar itu. Jangan-jangan dia kerasukan lagi. 

“Ah, masa sih? Kan dari jam 2 siang aku pamitan dengan kamu. Kamu sendiri yang mengantarku ke mobil,” jawabku. 

Lalu Dinda menceritakan semua hal aneh yang saat itu dia rasakan.

“Aku bersumpah Embot. Kamu dari tadi tidak pernah kemana-mana Kamu selalu berada di sampingku. Bahkan kita bercanda dan barusan makan gorengan bersama. Kantongnya pun masih ada di sini,” jawabnya. 

Aku kira dia mengalami de javu. Tapi aku bersyukur. Di satu sisi dia mengatakan seperti itu berarti aku selalu bersamanya. 

“Kamu merasa takut gak?” jawabku.

“Tidak, Embot karena aku yakin ada yang bersamaku barusan, dan itu adalah roh kamu yang akan selalu menjaga dan melindungiku,” katanya.

Tak terasa aku sudah tiba di Kembang Janggut sebab sepanjang perjalanan aku mengobrol dengan dia malam ini. Bersambung… []

Foto: Ilustrasi – Pixabay

Penulis: Embot Bovan, karyawan swasta di salah satu daerah di Pulau Sulawesi

*Ini adalah kisah nyata. Beberapa tokoh dan tempat disamarkan
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *