[Cerbung] Terjebak cinta Dinda (1)*

Namaku Fasius Mados. Lahir di sebuah kampung di pelosok bagian barat Pulau Flores. Tahun 2001 aku merantau ke seberang lautan. Tepatnya di Pulau Sulawesi.

Tahun 2006 aku berbelok arah. Merantau ke Kalimantan. Ke sebuah daerah pelosok. Di situ aku bekerja sebagai surveior pada departemen PMD di perusahaan bernama PTS.

Namun empat tahun kemudian, pada 2010, perusahaan ini terkena dampak krisis global. Aku tidak tahu kenapa perusahaan sebesar ini terkena dampak krisis. Aku sudah bekerja tiga tahun lebih, dan pada tahun keempat aku dan ratusan karyawan di-PHK.

Setelah itu aku pindah ke perusahaan sawit bernama PT MAJA. Dari sana aku mengenal seorang perempuan.

Tiga bulan aku bekerja di MAJA sebagai tenaga kerja musiman. Kami menyebutnya TKM. Selama bekerja sebagai TKM, aku merasa bahwa hak yang aku dapatkan tidak sesuai dengan pengeluaran sehari-hari.

Setiap hari selalu kasbon pada sebuah warung sembako di dekat tempat kami. Aku dan kawan-kawan dipercayakan oleh tuan warung meski utang kami bertumpuk-tumpuk setiap bulan.

Aku pun mencoba membanting stir lagi. Memutuskan bekerja sebagai pemborong atau tenaga borongan.

Hari berganti hari. Tiga bulan sudah. Namun hasilnya tetap sama. Aku tidak berubah. Utang di warung malah makin menumpuk. Berawal dari satu juta rupiah, hingga tiga juta rupiah.

Aku pun berusaha melunasi utangku. Namun usahaku sia-sia, utang tak kunjung lunas. Di tengah pergumulan ini, aku terus berdoa tiap malam agar Tuhan memberiku jalan. Aku kebingungan.

“Utang tiga juta aku dapatkan darimana? Tolong aku, Tuhan!” kataku kebingungan.

Saat bingung, tiba-tiba satu temanku bersedia membantu. Dia mau melunasi utangku.

“Dos, aku punya uang tapi tidak ada di saku,” katanya.

Kawan ini kebetulan pernah bekerja sebagai pemborong juga di PT Sima. Mendengar kata-kata itu betapa senangnya hatiku. Aku melompat-lompat seperti anak kambing. Hati berbunga-bunga.

Tanpa banyak bicara lagi aku dan kawan ini ke perusahaan untuk mengambil uang yang dimaksud. Menuju ke sana bukan perkara mudah. Kami harus melaluinya dengan menaiki motor sejauh dua puluh kilometer.

Setengah perjalanan telepon selulerku bordering. Aku mengeceknya. Oh, ada panggilan masuk. Tapi nomor tersebut tidak terdaftar dalam kontak HP-ku. Nomor baru rupanya.

Aku meminta kawan ini untuk berhenti sejenak. Hanya sekadar mau mengangkat telepon tersebut.

“Halo!”
“Iya, halo!
“Dengan siapa, ya?”
Dari balik telepon dia menjawab kegirangan.
“Kak Hans?”

Suaranya merdu. Aku bisa merasakan suara semerdu itu adalah gadis cantik. Dia kegirangan. Seperti sedang menelepon orang yang sudah lama menghilang dari hidupnya.

Tapi aku tetap penasaran. Karena terburu-buru, dan perempuan penelpon itu tidak kukenal, kututup saja sambungan telepon.

“Ah, orang ini mengganggu saja,” pikirku.

Lima kemudian…
“Kring! Kring!”

Aku mengangkat HP-ku. Rupanya masih nomor yang barusan meneleponku.

“Maaf, dengan siapa, ya?”
“Waduh, Kak Hans jangan bercanda dong. Ini aku mau pinjam skripsinya. Kamu kemarin ke kampus. Aku takut ketinggalan mata kuliah. Tolong, ya!” katanya.

“Mbak, maaf yah, aku bukan Hans yang kamu cari. Aku Mados. Kalau boleh tahu, ini siapa ya, dan dari mana asalnya?”

Aku semakin dibuat bingung. Sedangkan dia terus mengelak dan terus menyebutku dengan nama Hans.

“Waduh, salah sambung Mbak. Maaf,” kataku sembari memutuskan sambungan telepon.

Eh, tiga menit kemudian dia menelepon lagi. Aku masa bodoh karena aku berpikir bahwa itu salah sambung. Perjalanan kami dilanjutkan ke PT Sima.

Huhhhh, dasar perempuan! Dia menelepon lagi. Tapi aku sudah marah sehingga memutuskan untuk menonaktifkan HP.

“Kenapa HP-mu nonaktif, Dos?” Tanya kawanku.
“Ah, malas omong dengan orang tidak jelas. Dia menelepon terus tetapi tidak menyebut identitas dan alamatnya. Sok tahu lagi dengan memanggilku Hans.”
“Ohhh, begitu ya?”

Dari seratus meter tampak perusahaan. Sampailah kami di sini. Tapi sialan. Uang kawanku sebanyak lima juta sudah terlanjur diberikan kontraktor kepada salah seorang pembeli bensin. Aku pun marah dan kesal dengan si kontraktor.

“Eh, kenapa uangnya Cuma segini. Bukannya lima juta? Kamu mau menipu aku ya?” kataku dengan nada meninggi.

Aku paham bahwa lahan seluas yang dikerjakan oleh kawanku ini tidak hanya puas dengan bayaran lima juta. Lalu sore itu kami pulang dengan kecewa.

“Halo! Maaf, Mbak. Dari tadi menelepon terus. Aku bukan Hans, tapi Mados, mengerti? Aku tidak pernah kuliah. SD saja tidak lanjut, apalagi SMA. Maaf, jangan bercanda, ya?” jawabku dengan kesal sembari menutup telepon seluler.

Aku lupa tanggal berapa. Tapi aku mengingat betul bahwa ini hari Minggu. Sepanjang hari ini aku dibuat sibuk olehnya. Nomor salah sambung tapi dia tetap mengotot bahwa aku adalah Hans. Sebenarnya ini siapa ya? Kok dia sok kenal sok dekat denganku?

Hari sudah gelap. Udara pukul 7 malam begitu dingin. Tiba-tiba HP-ku berdering lagi.

“Halo!”
“Iya, ada apa, Mbak?”
“Apa betul ini bukan Hans?”
Aduh mamae, sampai berapa kali sih aku harus berkata jujur? Aku Mados. Mbak kok tahu nomorku dari siapa ya?”
“Dari teman, Mas.”

“Oh, begitu ya? Tolong berita tahu siapa dia dan tinggal dimana!”
Gak usah deh, Mas! Gak perlu. Kalau memang bukan Hans. Tidak perlu lagi aku kasih tahu namaku. Kan salah sambung.”

“Tapi kok salah sambung yang kedua kalinya, yakin Mbak? Kalau begitu aku hapus nomormu.”
“Tapi gak apa-apa ya kalau aku meneleponmu kapan-kapan, ya Mas?”
“Oh, gak apa-apa kok, asalkan bukan aku yang menelepon, karena aku tidak punya pulsa.”
“Terima kasih!”

“Kok terima kasih. Kan bukan aku yang nelpon? Tapi ngomong-ngomong, aku minta maaf ya tadi siang marah-marah melulu. Aku sih kesal karena HP berdering terus sepanjanh perjalananan.”

“Iya, Mas. Aku mengerti, kok. Aku juga minta maaf, ya. Tadi aku memang dengan suara motor saat menelepon kamu.”
“Baiklah….”
“Mas, sebentar aku telepon lagi, bisa nggak?”
Gak apa-apa sih. Tapi maaf kalau nomorku di luar jangkauan.”
“Bagus kok suara kamu. Selamat malam ya. Mimpi indah,” jawabnya menggoda.

“Iya, sama-sama, Mbak!”

Malam ini aku terus bertanya. Hati tidak tenang. Siapa ya? Kok langsung akrab begitu? Padahal baru kenal tadi siang. Aku memarahinya pula. Tidak kapok memangnya? Hmmmmm, dasar perempuan!

Bayangan akan suaranya di ujung telepon membuat malamku makin panjang. Aku terjaga hingga kantuk segera hilang.

Aku mencari tahu kepada kawan-kawan dan orang-orang dalam nomor kontakku. Tapi tidak ada satu pun yang mengenal nomor itu.

Aku terus bertanya-tanya hingga pagi datang lagi. Sepanjang malamku hanya memikirkan tentang suara itu.

“Halo. Selamat pagi, Mas!” Tiba-tiba dia meneleponku lagi pagi ini.
“Pagi juga, Mbak!”
“Semalam mimpi aku ya?”
“Tidak!!! Emang kenapa. Kamu kok PD sekali?”
“Ya, cuma tanya aja, Mas. Emang ga boleh ya?”

“Tidak juga sih. Tapi maaf, Mbak, ngomong ngomong namanya siapa ya? Kalau boleh tahu. Masa dari kemarin sampai hari ini, Mbaknya belum perkenalkan namanya. Jadi, aku harus panggil mbak siapa?” Tanyaku penasaran.

“Ah, apalah arti sebuah nama kalau nantinya juga aku berbohong,” Jawabnya dengan nada yang sangat merdu dan lembut.

“Ya, siapa tahu kita jodoh kan Mbak!! Masa namanya saja pelit. Huh.”

Dia pun tertawa. “Amin, ya Mas.
tapi nanti ya, Mas, tunggu tiga hari lagi aku akan beritahu namaku, dan tinggal dimana, darimana,” jawabnya.

Ketika mendengar ucapan itu, aku senang sekali. Seperti sudah akrab. Seolah bukan baru bertemu di telepon.

Tapi dia tahu nomorku dari siapa ya? Ah, ini orang mau mengerjai aku. Aku tidak percaya ini betulan.

Aku dan dia memang tidak pernah bertemu ataupun saling kenal. Tapi hari ini aku dan dia seperti sudah saling mengenal dan akrab.

Tidak ada kata gombal dariku. Hanya canda tawa di ujung telepon. Seperti kebanyakan pria, sebenarnya nama itu penting saat berkenalan.

Ini tidak. Namanya masih dirahasiakan. Percakapan tiga jam melalui sambungan telepon tak terasa meski namanya tetap misteri.

“Mas, aku senang sekali bisa ngobrol sama kamu. senang sekali,” katanya.
“Ah, biasa saja kok,” jawabku santai.
“Iya, Mas. Aku serius lo,” jawabnya.
“Serius, Mbak?” Timpalku.
“Entah apa yang membuat aku senang seperti ini. Aku tidak pernah merasakan sesenang ini selama berbicara dengan orang baru seperti kamu,” jawabnya.

Aku berusaha menyela percakapan kami. Tapi dia terus mencecarku.

“Mas,, bisa gak, aku telepon kamu terus?” Dia bertanya.
“Hahahha…, biasa saja. Tapi terserahlah. Asal bukan aku yang menelepon. Maaf saja karena aku tidak punya pulsa,” jawabku pasrah.

“Gak apa-apa, Mas. Biar aku saja yang menelpon kamu, asalkan kamu bersedia. Itu sudah cukup,” katanya lembut lalu menutup telepon. Bersambung….. []

Foto ilustrasi – Pixabay

 

Penulis: Embot Bovan, karyawan swasta di sebuah kota di Sulawesi
*Cerita ini adalah kisah nyata. Nama-nama tokoh dan tempat disamarkan
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *