Celotehan “Now”

milenial

Sa tra tau “jaman now” tuh siapa yang kasih booming ee? Dan sapa yang pertama pakai? Maklum sa anak kampung dan kurang “now”.

Tiap jalan-jalan ke rumah om google, nonton teve dan mendengar perbincangan sana-sini, kata itu ada. Itu: “jaman now“.

Sa juga pernah menggunakannya saat berkelakar. Tapi sa rasa macam janggal begitu. Ada tambahan lagi “kids jaman now“, yang kalo salah ucap jadi “kiss jaman now” atau “permen kiss”. Wuyuhhhhhhh……

Memang sa tra tau bahasa Inggris, tapi kalo kata yang satu ni macam lain skali ooo. Sa jadi bertanya-tanya (bukan pada rumput yang bergoyang). Apakah ini bahasa Inggris alay atau apa e?

Setelah berkutat dengan tanya, saya pun menemukan jawabannya. Bahwa banyak informasi di internet. Namun, saya mengambilnya dari salah sebuah portal berita online sebagai referensi yang saya anggap “terpercaya”.

Bagaimana pun, media massa (online) mempunyai aturan dalam menyebarluaskan sebuah informasi, baik diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, maupun Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Oleh karena itu, saya mengutip liputan6.com, 24 Oktober 2017, sebagai referensi arti kata itu tadi.

Pemilihan sumber ini bukan untuk mengkritisi penggunaan kata “jaman now” di media ini, tetapi bahwa ini sebagai sumber acuan bagi saya untuk memperkuat pemahaman saya selanjutnya.

Di situ disebutkan, lima bahasa slang internet terpopuler beberapa hari terakhir. Sebut saja tercyduk dan kids jaman now.

Tercyduk artinya dibekuk, mengambil, menahan. Biasanya disebutkan dalam jurnalistik—yang baku sebenarnya ciduk.

Jaman now artinya kekinian; Ada juga faedah, HQQ (maksudnya hakiki), yang artinya yang mendasar, yang sesungguhnya) dan panutanku (contoh, teladan). Anutan.

Sebelumnya saya mencari tahu sendiri arti kata “jaman now” atau “kids jaman now”. Lambat laun saya pun mengetahuinya seturut pemahaman saya dan konteksnya.

Ternyata oh ternyata, “jaman now” artinya zaman sekarang, kekinian, up to date, fashionable. Antonimnya “old fashioned”. 

Tafsiran ini debatable. Jika terjemahan saya dianggap keliru, maka sidang pembaca berhak mengoreksi seturut referensi yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Sorry menyori so what gitu lo, seperti kata kawan Saykoji dalam lagu hip-hop tahun 2000-an.

Setelah menemukan jawaban alakadarnya, saya lanjut menyeduh dan meneguk kopi pa’it dari Moanemani, Dogiyai, Papua.

Hmmm, itu tadi. Kekinian.

Saya memang kurang “now” sehingga menjadi “old”  dengan jargon-jargon, bahasa gaul, bahasa slang.

Saya lanjutkan, celotehan saya.  Oh, mungkin jaman (yang baku: zaman) dulu atau jadul atau lawas nanti dorang (mereka) terjemah lagi menjadi “jaman last” (jast).

Mungkin juga “old era” atau “jaman BC (Before Christ)”. Atau lain lagi “jaman old“. Disingkat “jamo”.

Dan jaman yang akan datang menjadi ”jaman next” atau disingkat “janet”. Dan “jaman tommorow” disingkat “janto”. Atau “jaman the day after tommorrow” yang disingkat “jamtato”.

Hahahah, adu mama sayangeee!!! Su talalu pusing lai. Jadinya babingung.

Daripada pusing mending sa maen catur deng sa pu Tete Yaklep. Sambil lihat-lihat bidak catur dan dengar dia pu petuah bijak. Sebab maen catur kita bisa sambil refleksi dan merenungkan hidup yang sarat pertarungan, keteraturan, kesabaran dan ketelitian, serta ketangkasan berpikir. Itu saja.

Biar tra terbawa arus yang tadi tuh: “arus jaman now“.

Persoalannya, jika bahasa “alay” merajai publik, apalagi digunakan media massa (tv, koran, majalah, internet)—yang salah satu fungsinya: mengedukasi—bukankah ini menjadi sebuah kemajuan atau malah sebuah kebodohan yang dipamerkan?

Sa cuma bilang: sio saja. Seperti sebuah lirik lagu yang kawan-kawan dan basodara dorang nyanyikan di sa pu kampung:

Rasa sayang ee rasa sayang sayangeee, e lihat dari dari jauh rasa sayang sayangeeee.

Sebagai anak kampung—anak timur, yang jauh dari mama kota—kota metropolitan—saya harus berbangga bahwa sa dan anak-anak timur umumnya, tetap menggunakan dialeg khas kami meski tak banyak yang melirik dialek khas itu, dan tidak berusaha memahaminya. Barangkali!

Dialek Melayu Papua, Melayu Ambon, Melayu Manado, Melayu Kupang, Bahasa Nagi dan Melaju Manggarai memang harus saya banggakan. Bukan bahasa “alay” yang menjadi “sampah” media.

Maka dari itu, saya harus mengakui, bahwa kawan-kawan komik yang melucu di panggung lawak semisal Abdur Arsyad, Ary Keriting, Epy Security, aktor-aktor Epen-Cupen, dan kawan-kawan lainnya adalah figur yang tetap mempertahankan ketimurannya dengan dialek yang khas.

Lantas kita lain bagaimana? Malu? Tentu tidak! Harus bangga bahwa kita juga bagian dari “yang ada” yang dipertahankan. Jangan terlarut dalam “hits jaman now” yang “lain” dari yang lain.

Atau sa belajar beberapa kosakata dan kalimat bahasa Inggris saja. I love you. Biar sa pu ade bagus nanti balas: I love you Kaka Timo! Ahhaha, apeleeee kaka eeee, abunawas tinggi sampeee. (*)

#JPR, 14NV17

FOTO: Nyunyu

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *