Catatan di tengah pandemi corona

0

“Dan bila aku berdiri tegak sampai di sini semua karena cinta”

Sa lupa ini sapa punya lagu. Sa cuma ingat lirik “sepenggal dusta” itu. Tra hafal semuanya.

Forget it. Nanti jua dia melintas di benak. Toh Kaka Joy Tobing tra akan marah karena itu dia pu lagu rohani “Karena Cinta“.

Kawan-kawan pun bernyanyi bersama 14 Januari-nya Kaka Glenn Fredly, untuk mengenang kepergiannya ke alam baka, 8 April 2020, karena kanker otak, dan mengheningkan cipta untuk ibunda Presiden Jokowi yang pergi di tengah pandemi, atau sesama saudara yang nyawanya direnggut virus corona.

Di tengah pandemi coronavirus disease 2019 (covid-19), banyak orang yang mati karena virus ini; ratusan, bahkan ribuan banyaknya.

Namun, masih ada yang setia di rumah, mengumpulkan harapan dengan aneka daya.

Ada yang punya kreativitas dan optimisme, dengan menuangkan bakat dan ide kreatifnya melalui parodi atau kelakar, untuk sekadar menginspirasi, imbau dan edukasi, bahkan tak jarang mendapatkan uang. Jualan misalnya.

Di facebook, instagram, youtube, dan blog atau twitter, postingan-postingan mereka kadang-kadang mengundang gelak tawa.

Di sisi lain juga membikin suasana karantinus, eh karantina mandiri, jaga jarak dan pembatasan sosial berskala besar menjadi beda.

Kaka Dodi Epen Cupen dari Merauke, Papua, yang berprofesi sebagai Ketua RT, terkejut ketika warganya ditemui sedang mengelap debu-debu pada dedaunan di kebun dekat rumah, karena lockdown dikira mengelap daun supaya bersih.

Pada sepotong percakapan lain, juga ditemui dua orang sejoli, yang tanpa sa duga itu adalah adik saya, Yustinus dan Yustina.

“Hari ini kamu masak apa, Yustina?” Tanya Yustinus.

“Aii, lauk daun saja,” jawab pacarnya yang centil nan supel itu.

Adu mamamia lezatos, itu lockdown atau karantinus.”

“Karantina, Kaka. Oiii, karantina. Kalo Tinus itu adik saya yang masih kuliah.”

Tra lama kemudian, Yustinus berlari mengelilingi kompleks perumahannya dan menemui Saverinus kawannya sedang bersama warga.

“Hai, sibuk apa ka?”
“Mau bikin plang jalan karena kompleks di-download.”
“Hhhhh.”
“Iya, untuk mencegah migrasi penduduk dari luar kompleks. Apalagi virus corona sudah merenggut tiga nyawa penduduk ibu kota Provinsi Papua, Jayapura, dan puluhan lainnya terkonfirmasi positif.”
“Oh, lockdown. Lockdown,” kata Yustinus membetulkan ucapan Saverinus, sambil tersenyum.

Saya terkadang tertawa. Percakapan seperti ini berseliweran di jagat maya dan kau tahu itu dipoles sedemikian rupa agar tidak down saat lockdown.

Hal-hal seperti ini dapat mengurangi stress, menyehatkan jantung, mengurangi depresi, dan meningkatkan imunitas, seperti diulas dokter Merry Dame Cristy Pande, 19 Agustus 2019, dalam blog Alodokter.

Tinggal di rumah saja atau stay at home akan menjadi at home jika diisi hal-hal kreatif dan bermanfaat memang, misalnya menyanyi, menonton televisi/film, olahraga, menulis dan membaca buku, bukan membaca perasaan. Eh.

Apakah hal-hal seperti ini berlaku juga bagi mereka yang kelaparan karena kehilangan pekerjaan atau sakit dan tra punya apa-apa?

“Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara,” kata Yakomina adik saya, yang tiba-tiba muncul dari dapur sembari membawa jamu temulawak dan memberi tahu, bahwa kalimat itu dia copypaste dari bapa-bapa dewan yang doyan obral janji.

Sa juga teringat kakak sepupu saya yang kesehariannya mengojek. Sebastianus namanya.

Sebelum pandemi, suatu sore yang cerah, Sebastianus sedang menunggu penumpang di pangkalan bersama Patrisius kawannya.

Tiba-tiba seorang ibu datang. Mau ke pasar rupanya. Mereka langsung mendekatinya dan menawarkan jasa ojek.

“Oo….. oooooo….. ooo…….jek ka ta…. ta….tan….ta?” Tanya Sebastianus.
Tapi Patrisius dengan cekatan menyambar, “Ojek ka tanta?”
“Iya, dek. Ke pasar ka!” Jawab si tanta.
Lalu si tanta menumpangi Si Patrisius, sedangkan Sebastianus tidak mendapat penumpang tadi. Dia gagap dan kalah cepat sama Patrisius. 

Sa juga membayangkan nasib mereka semasa PSBB ini bersama masyarakat di pinggiran kota dan perkampungan, serta mama saya yang mengeluh karena tra dapat pulsa meteran gratis dari pemerintah dan bantuan sembako.

“Perhatian-perhatian, jalan ini di-download. Anda diminta untuk di rumah saja, karena sedang di Argentina!!”

Begitu teriak kawan saya, Marselinus, di balik megafon yang dipinjamnya dari Bapa RT.

“Hah? Ini corona, bukan Copa Amerika!”
Kaka, mari dolo!!” Kata Yakomina lagi.
“Iya, ada apa adik?”
“Kaka, pertama ketemu saya dimana?”
“Ha? Maksudnya?”
“Aeh, efek ikut rame di facebook to kaka.”
“Uhuuuuh, kita kan satu kandungan. Kita bertemu di rahim mama.”
“O iya, yaya, ikut rame kadang-kadang bikin ‘otak mati‘ juga kaka.”

Asudahlah, daripada ikut rame trada guna, mending kau pi kasi makan babi dan masak ubi sudah.

Begitulah. Kadang tinggal di rumah jadi boring juga, lantas down dan tra berani lawan arus. Tapi tidak demikian bagi orang-orang kreatif.

Saya menemukan coretan pada selembar kertas diary. Entahlah disebut puisi. Kuanggap saja coretan sebagai sebuah terapi patah kaki, eh hati.

“Kepada jiwa yang terkulai
Dan ribuan insan yang pergi
Kami tetap menepi dalam sunyi, merenda optimisme di sini dan kini

Air mata dan daun jadi satu senyawa dalam tanah
Mata air jadi kering

Kemanakah mereka pergi, Tuan? Tanyaku
Sedangkan planet ini jadi sepi merangsek harapan yang digenggam kokoh

Di ruang tengik kami menunggu pergi
Menyusul ribuan raga sampai nanti

Lalat-lalat berdansa dan mabuk bangkai
Sedangkan kumpulan gagak menanti waktu

Aku harus pulang 
‘tuk menemukan aku yang rapuh-papa. Menggempur lingkaran matahari yang mencerai-beraikan jutaan asa manusia fana.

Kepada pagi yang berselimut mentari 
Hangatkan raga dan jiwa yang terkulai”

Eh, sa seperti sedang merapal mantra hingga senja pun beranjak pergi dari permukaan Danau Sentani.

“Kepada yang pergi
Hingga mata air mengering bagi mereka yang menepi dalam sunyi”

Demikianlah coretan sederhana saat pandemi coronavirus ini; menghilangkan down kala lockdown.

Sa pu kawan bilang, pandemi corona ni bikin kreatif juga. Kalo kitong tra kreatif kenapa jadi?

Tra apa-apa juga, asalkan kitorang baku jaga, baku sayang dengan “jaga jarak aman” dan cuci tangan, bermasker dan bukan pamer, demi cinta yang tertanam kuat dalam sanubari, “mengentas” pandemi dari tana pusaka. []

JPR, 20APR20

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here