Catatan akhir Januari di musim dureng

0
Pixabay.com

Sejak akhir November 2020 hingga sekarang, Manggarai memasuki musim penghujan. Puncaknya awal tahun ini. Kami menyebutnya dureng. Ada cerita di musim ini. Tapi sabar dulu.

Tiap hari hujan. Malam pun hujan. Berturut-turut selama seminggu, bahkan bulan. Kami menyebutnya dureng—kata khusus yang merujuk pada hujan yang tidak pernah berhenti mencintai bumi. 

Kata dureng sudah dicatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan kini menjadi bahasa Indonesia, sehingga orang-orang Manggarai, termasuk saya, lebih PD menulis kata dureng tanpa huruf Italic atau control I. 

Musim dureng persis memasuki musim tanam. Kami menyebutnya cekeng, sehingga kemana-kemana, apalagi ke kebun, kita harus membawa mantel hujan, payung atau sejenisnya. 

Persis di musim dureng ini, terjadi pandemi virus corona sejak akhir 2019 (covid-19). Hingga 28 Januari 2021, Situs Satgas Covid-19 mencatat jumlah pasien positif di Indonesia lebih dari 1,03 juta positif, 842 ribuan sembuh dan 29 ribuan orang meninggal. Angka yang fantastis dan membuat kita selalu waspada dan tetap menerapkan protokol kesehatan saat bepergian.

Lengkap sudah. Aktivitas dijaga betul dan harus waspada, sehingga kemana-mana harus memakai mistar, eh masker sesuai protokol kesehatan. 

Di kampung Lentang dan Lamba, Kecamatan Lelak, per akhir 2020 dan awal 2021 tiga orang meninggal. Sedih. Tentu bukan karena corona. Bukan sayang. Sakitnya bermacam-macam. Ditambah usia uzur. Sekurang-kurangnya dalam catatan saya. 

Pertama, Bapak Nikolaus Tarung (60). Dia adalah pegawai tata usaha di Yayasan St. Stefanus Ketang. Meninggal pada Rabu, 27 Januari 2021 di Ruteng. Sakitnya komplikasi. 

Dia punya jiwa seni. Jago dekor. Siapa pun yang pernah mengikuti misa di Gereja Katolik Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Rejeng-Ketang, dan melihat dekorasi yang indah saat natal, paskah, pentekosten (pentakosta), dan hari-hari raya lainnya, itu adalah hasil kerja kreatif mendiang Nikolaus Tarung alias Pak Niko. Tentu ada juga sederet nama lainnya, seperti, Paulus Ndondo, Alfons Jekaut, etc.

Nikolaus juga punya jiwa seni dalam model yang lain. Seni suara dan seni tari dalam tradisi Manggarai di ujung barat Pulau Flores. Danding namanya. 

Ketika ada upacara tahbisan imam di Paroki Rejeng-Ketang dan pesta famili di SMPK St. Stefanus Ketang, beliau adalah salah seorang yang paling dicari untuk memimpin danding. Termasuk membawa anak-anak asuhan Santu Stefanus ke katedral Ruteng beberapa tahun lalu. Praktis danding terakhirnya adalah pada saat pesta syukuran imamat Reverendus Pater Iwantinus Agung, SVD, 6-8 Oktober 2020 di Kampung Lentang.

Dia betul-betul total dan mempersembahkan apa yang terbaik bagi banyak orang. Dia memberikan semua talentanya dengan ikhlas. Seperti kata Yesus dalam kitab suci, “kamu telah mendapatkannya dengan cuma-cuma, maka berikanlah pula dengan cuma-cuma.”

Nikolaus juga punya jiwa pengabdian. Lebih dari seperempat abad atau 34 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah pengabdian. Bahkan hingga maut menjemputnya ia masih setia mengabdi di SMPK St. Stefanus Ketang.

Bunyi tok tak tik tok di sudut sebuah gedung di sisi tenggara SMPK St. Stefanus Ketang adalah suara khas mesin ketiknya. Anda mungkin mengira itu mendiang Yakob Oetama, yang tiap hari mengetik berita dan tajuk rencana untuk harian Kompas

Hampir pasti benar. Itu adalah suara mesin ketik. Tapi dari sebuah ruangan di sudut gedung sekira 10×40 meter di Ketang. Bapak Nikolaus mengetik kabar untuk papan informasi (mading) dan soal-soal ujian anak SMP Ketang dan undangan-undangan sekolah. 

Yang terakhir ini: sense of humor dan jiwa bergaul. Orang-orang kota menyebutnya supel. Pandai bergaul. Setidaknya sepengetahuan saya sebagai alumnus SMPK Ketang dan sesama warga Desa Ketang-Lentang. 

Ketika ganda-ganda (mengobrol) saat bersenang atau sebelum belajar sore, beliau adalah salah seorang bapak, yang tidak mengenal kata “pilih kasih” dalam bergaul. Termasuk dengan anak-anak muda.

Dia punya banyak bahan cerita yang akan dibagikan kepada anak-anak SMP Ketang, yang juga punya jiwa yang sama sebagai pencerita dan pendengar yang baik. Lucu tentunya. You know-lah, bagaimana konteks lucu saat ganda-ganda dengan para remaja pria dan wanita yang masih puber. 

Jiwa pencerita ini, rasa tanggung jawab, totalitas dan loyalitas pada pengabdian, adalah sebagian dari banyak bekal yang kelak diceritakannya ke hadirat Mori Jari Dedek. Bahwa dia punya banyak orang yang dicintai dan mencintainya;

Kedua, Mama Regina Bamut (69). Dokter mendiagnosanya sakit lambung. Tidak bisa menelan makanan. Lalu meninggal dunia Senin malam, 25 Januari 2021 di Golo Nderu, Desa Lentang, setelah dirawat cukup lama. Beliau meninggalkan tujuh orang anak. Dia menyusul sang suami, Gerardus Hagam (71) yang dipanggil Tuhan pada 1 Juli 2017.

Ada cerita mistis sebagai penanda kepergian Mama Regina Bamut. Ketika itu, sekitar pukul 9 malam, saya dan dua kakak sepupu, Kaka Nadus dan Kaka Deus pergi strom ikan, belut dan katak. Strom ikan adalah penangkapan ikan dan hewan air lainnya dengan menggunakan aki bekas. 

Aki disambungkan dengan kabel pada kayu dan bunde (jaring). Aki ditaruh di dalam jeriken dan dibuat seperti ransel. Sedangkan kayu dan jaring yang sudah dihubungkan dengan arus listrik dari aki, dimasukkan ke dalam air hingga ikan, belut, katak, ipun, udang, dan hewan lainnya menggelepar dan pingsan. Bak “disengat” badai (storm). Strom dalam bahasa sederhana kami.

Apesnya malam ini aki macet. Tidak ada arus listrik. Kami menduga kabel putus, sehingga beberapa menit Kaka Deus membetulkan aliran aki. Sia-sia. 

Sedang Kaka Deus membetulkan aki, sepintas saya mendengar suara asing seperti dua manusia yang bercerita (nggum-nggum) dari jarak sekira setengah lapangan bola kaki. Gelap. 

Di sini memang sering terjadi gangguan. Ada-ada saja suara-suara asing bahkan “bunga mata” (wela mata) benda-benda atau makhluk tak kasat mata. Bulu badan seketika berdiri ketika melewati kawasan ini. 

Saya malas tau saja karena memang ini musim hujan dan dureng. Hampir pasti kodok dan katak mengadakan lomba paduan suara tiap malam saat dureng. Beberapa menit kemudian terdengar tangisan dari arah Bukit Golo Nderu.

“Sabar dulu! Ada tangisan,” kata Kaka Nadus.

“Ah, bukan Kaka. Itu bunyi kodok,” saya menjawab.
“Bukan. Itu suara tangisan,” ujarnya meyakinkan.

Lalu kami sama-sama memasang kuping. Fokus pada suara tangisan. Betul itu tangisan.

“Kaka, tadi sebelum suara tangisan itu saya mendengar nggum-nggum,” kata saya kepadanya.

“Saya juga. Saya sengaja diam saja karena saya khawatirkan kalian pasti takut,” kata Kaka Nadus. 

“Baiklah. Kita balik kanan.”

Kami pun pulang dengan membawa beberapa ekor belut dan mujair. Setiba di rumah terdengar kabar bahwa Mama Regina Bamut meninggal. Kami lalu ke rumah duka di Golo Nderu.

Tempat dimana suara obrolan tadi memang jalan yang biasa dilalui almarhumah saat ke kebun bersama anak bungsu dan suaminya. Praktis melewati jalan di depan rumah kami, sehingga saya pasti tahu dengan siapa dia ke kebun. Pun ketika pulang saat petang dengan menggendong keranjang (eko roto) berisi ubi dan pakan ternak. 

Dia adalah orang yang ramah. Suka menegur. Kami menyebut itu perama. Meski dari jarak jauh sekalipun, dia memanggil orang-orang yang dijumpainya saat ke kebun. Siapa pun yang mengenal sosok yang akrab dipanggil Inang Enderd So ini, hampir pasti berkesan sebagai orang perama

Mama ini juga bertipe pekerja keras. Saya sewaktu kecil hampir pasti melihatnya di depan rumah kami saban hari ke kebun, hingga pulang kala petang;

Ketiga, Mama Bibiana Saul (60). Dia adalah mama dari kawan saya, Hendrikus Nong Herianto Rato. Kawan semasa kecil dan masa sekolah. 

Saat SMP saya dan beberapa teman SD dari Ketang, Lamba, Tango, Rejeng, Sepe, Cireng, Lentang dan sekitarnya, bersekolah di sekolah yang sama. Praktis sekolah ibarat halaman bersama bagi kami, karena memang rumah tak jauh dari sekolah dan paroki.

Saban hari usai belajar sore dan akhir pekan, kami kerap bergiliran ke rumah teman. Misalnya sore ini saya dan kawan-kawan ke rumah teman bernama Saverinus, di hari berikutnya ke rumah kawan Gonzales, lalu hari berikutnya ke rumah kawan Yohanes, Marselinus, Fransiskus, Laurensius, Bonaventura, Hendrikus, Yulianus, dan lain-lain. 

Apa tujuannya? Tidak lain untuk menikmati kopi panas bersama tete raja (ubi jalar) atau daeng (ubi kayu) dan alpukat, jambu, jeruk, nanas, atau apapun yang bisa dimakan. Apalagi tinggal di asrama sekolah misi dengan aturan yang begitu ketat dan disiplin. Berkunjung ke rumah teman dan bergantian sepanjang pekan adalah waktu yang pas untuk pesiar. 

Sepulang dari rumah kami membawa ubi, lombok atau ikan untuk dimakan bersama teman-teman semeja makan di asrama. Praktis persahabatan seperti ini dirawat hingga entah sampai kapan. 

Dari sini kami mengenal karakter orang tua kami masing-masing. Begitu pun mereka mengenal dan memperlakukan kami seperti anak sendiri, sehingga “pukul rata” saat memberi nasihat. Saya mengenal Mama Bibiana yang dipanggil Tuhan, 12 Desember 2020, sebagai mama yang ramah, baik, dan pemberi nasihat.

Awalnya dia dikabarkan terjatuh lalu diantar ke rumah sakit. Keesokan harinya, tepat dinihari beliau menghembuskan napas terakhirnya.

Begitulah kematian. Tak diketahui kapan maut menjemput kita. Tapi ada yang pasti bahwa kematian itu ada. Kita sedang berziarah menuju tanah air surgawi.

Saya teringat pepatah klasik, yang konon sebuah tulisan pada batu nisan di abad pertengahan, hodie mihi cras tibi (hari ini saya besok engkau), tentang kematian. Selamat jalan orang-orang terkasih, RIP.  []

#Ltg29121

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here