Cara bijak menerima olok-olok

Sa pu kawan ada bacarita deng sa. De bilang betapa sakitnya menahan olok-olok saat pertemuan kawan, keluarga, dan laen-laen. Di laman maya atau media sosial dan pertemuan nyata. Tentang apa?

Pasalnya, ada kelompok-kelompok pertemanannya. Dia su bikin klasifikasi berdasarkan takaran olokan.

Dalam percakapan atau obrolan santai, kawin menjadi topik terhangat dari tiap tema. Naas terjadi ketika dirinya menjadi sasaran empuk.

Lalu sa mulai keluar jurus menenangkan pikiran dan menerima banjir “kata-kata” dengan bijaksana.

Bahwasannya dalam obrolan santai sekelas teman atau rekan, hampir pasti ada olok-olok yang tenang-tenang mendayung. Dalam bahasa “now” kerap disebut “bully“.

Saya lebih ramah mengggunakan kata olok-olok daripada “bully“, karena bully lebih negatif bahkan terlalu sadis. Biar tidak terjadi misunderstanding atau misinterpratation juga.

Maka dari itu, tiap obrolan ringan perlu ditanggap dengan santai, sambil meneguk kopi seteko. Berat ini Milea, aku saja! Ha? Maksudnya berat ini bahasa tulisan.

Selain itu, perlu dipahami, bahwa terdapat beragam tipe manusia. Tidak ada tipe yang persis sama dalam hal kepribadian, sifat, prioritas dan idealisme.

Lantas mengapa ada olokan seperti itu? Kenapa oh kenapa? Karena memang mereka tahu dan mengenal kepribadianmu secara mendalam–kalau tidak mau disebut akrab–dan terdorong oleh rasa cinta kasih dan sayang.

Lain hal jika menerima umpatan dengan menyebut semua nama binatang di hutan rimba. Itu lain cerita dan perlu dimaknai sesuai nada dan konteks.

Tapi dalam olokan konteks kenapa tra kawin-kawin tadi (maksudnya nikah e), entah ditinggal sang mantan, eh sang waktu, itu lebih karena beragam alasan. Saya berargumen dari sisi objek penderita.

Entahlah dari sisi penutur. Bagaimana pun, meminjam ungkapan, “dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu”.

Banyak motif olokan dalam pertemanan. Orang yang supel tentu meresponsnya dengan bijak, seperti disinggung di atas tadi.

Pertama-tama harus dipahami bahwa tiap karakter itu berbeda. Dalam teori psikologi kepribadian, kalau tidak salah, ada yang disebut eneagram.

Eneagram berasal dari bahasa Yunani. Enea artinya sembilan, dan gram artinya tipe (takaran).

Sembilan tipe itu di antaranya, tipe 1, tipe 2, tipe 3, tipe 4, tipe 5, tipe 6, tipe 7, tipe 8, dan tipe 9.

Penamaan tipe 1 sampe 9 bukan karena bobot atau peringkatnya, tapi soal netralitas penamaan. Karena memang ada sembilan. Jika ada sepuluh mungkin disebut “dasagram”. Hadeh!

Sembilan tipe ini saling berkaitan. Kadang-kadang punya kemiripan, kesamaan, kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kadang-kadang kitorang bingung dan keliru menamainya.

Misalnya, saya bilang; saya tipe 1, 2, 3, de es teh, tapi eh fakta sebenarnya bukan tipe itu. Pun sebaliknya.

Kadang-kadang sayap tipe 1 adalah 3, atau 2 dengan 4 dan 6. Begitu seterusnya sampai kitong pusing sendiri.

Butuh waktu lama untuk mengetahui satu tipe dengan tipe yang lainnya. Tes-tes sedetik sekalipun. Bertahun-tahun bahkan lebih. Itu pun kita tidak hanya mengenal satu hal dan kulit luar.

Saya pernah belajar ini barang. Agaknya terlalu sulit untuk memvonis bahwa saya tipe ini dan itu. Terlalu gegabah jika saya menyebut diri sebagai tipe 1, atau si B tipe 2, dan si C tipe 3.

Berbeda halnya dengan ciri-ciri kepribadian umum yang kemudian kita kenal sanguinis, melankolis, plegmatis, dan kolerik, atau introver dan ekstrover.

Eneagram lebih mendalam dan sarat “mbili-mbolot” (rumit). Kita butuh waktu yang lama untuk mengenal salah satu tipe menurut eneagram. Untuk contoh ini ada dalam keluarga (bapak, istri, anak, dan anggota keluarga lainnya).

Seorang bapak mengetahui kepribadian anaknya karena memang sejak kecil dia bersama anak. Dia selalu bersama dalam fase pertumbuhan dan perkembangan si anak.

Begitu pula sang anak, ibu, dan saudara-saudara, yang mengetahui tipe anggota keluarganya.

Dalam konteks menjadi “korban” olokan soal kawin, anggap saja saya sedang mempelajari eneagram. Wuyuh.

Poin saya adalah, topik itu tidak lebih dari bumbu obrolan. Mengutip iklan rokok: “nggak ada lo nggak rame“. Atau no joke no chat.

Kawan saya alumnus master psikologi dari salah satu universitas di Yogyakarta bilang, tidak ada satu tipe kepribadian yang benar-benar full. Dia memberi contoh, orang yang introver, apakah benar dia memang tidak mau bergaul dengan orang lain?

“Istilah yang tepat untuk tipe kepribadian yakni kecendrungan individu. Begitu juga dengan alat ukur kepribadian, tidak ada yang tingkat validitas dan reliabilitasnya 100 persen,” katanya kepada saya.

Lebih dari itu, olok-olokan lumrah dalam persahabatan. Lebih pada canda tawa. Semacam bernasihat dengan itu kata.

Kalau misalnya, diolok, dan saya tidak merespons, atau responsnya “no comment“, dan “no joke“, tentu tidak lanjut dan tak akan pernah ada ini tulisan. Masalah selesai.

Jadi, cara tiap tipe kepribadian berbeda dalam memberikan nasihat, motivasi, dan ajakan.

Saya punya bapa misalnya, dia kerap bercerita di ujung telpon. Dia mengaku pernah bertemu teman-teman saya. Perempuan dan laki-laki.

Patut berbangga jika keluarga bertemu kawan lama. Artinya, persahabatan itu abadi meski berpisah jauh oleh karena jarak dan cita-cinta, dan sesekali bertemu saat reuni dan upacara adat.

“Lalu bagaimana kabar mereka, baik-baik kah?”
“Mereka mengatakan bahwa kau su punya anak ada berapa?”
“Huhhhh, bapa sudah, sudah. Bagaimana saya punya pohon ampupu, jati dan arabika, yang ditanam sebelum pigi merantau, su besar ka?”

Lalu topik dialihkan agar tidak mengganggu obrolan tentang belis atau maskawin.

Lain lagi dengan saudara-saudara perempuan kalau bercanda. “Yang penting ipar su ada. Perkara belis belakangan. Toh itu urusan keluarga.”

Guyonan keluarga, sudah pasti, sebagai bukti cinta kasih dan sayang. Ups, lebay deh.

Ada cerita lain lagi. Kawan-kawan si kawan yang akrab sejak kecil punya cara berbeda. Terlalu sadis jika dipandang dari sudut pertemanan, tapi terlalu urgen dari sudut persahabatan.

Misalnya begini: ah, kau su expired atau kedaluwarsa. Ha? Masa manusia diidentikkan dengan barang atau benda? Sio mama tara bisa.

Memang manusia adalah makhluk berbudi pekerti (homo sapiens), homo socius (makhluk sosial), atau “zoon logon echon” (makhluk berkata-kata) seperti dikemukakan oleh tete-tete dorang di zaman Yunani dulu.

Tidak lantas disebut “binatang” sungguhan, sebab manusia dikaruniai budi pekerti, perasaan, dan hati nurani–selain hasrat atau naluri.

Untuk hal yang satu ini–soal kawin tadi–kitorang juga harus merespons dengan akal sehat, nurani yang bersih, dan melihat dari berbagai sisi.

Dalam konteks relasi sosial, yang mana hubungan antarindividu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok yang begitu akrab, anggap saja olokan semacam tadi merupakan motivasi dan semangat.

Ibarat lomba lari, jika trada tukang sorak-sorai, atau suporter dalam sepak bola, maka gerakan menjadi lamban dan trada naluri gol. Ujung-ujungnya kalah.

Anggap saja kitorang jadi buli-buli untuk menampung sophia, eh air. Air “kata-kata” yang disimpan di dalam buli. Dia dieandapkan dan diminum. Atau sebagai nyiru untuk menampi jagung dan beras. Kalau tidak, bawa ke dalam doa.

Orang Manggarai bilang: “kudut kantis ati racang rak“–agar menjadi lapang dada atau berbesar hati.

Dan ingat, kawin bukan soal urusan satu atau dua hari lalu selesai. Juga bukan perkara tinggal, tidur, kawin, dan ada anak lalu selesai. Bukan perkara satu tahun dan setelah itu buang seperti di sinetron.

Ini perkara seumur hidup. Teman hidup, teman tidur, teman menciptakan generasi baru. Kecuali itu, lebih menyangkut hubungan, tidak hanya dua insan yang kasmaran, tapi juga soal hubungan keluarga, adat-istiadat dan agama. Sip yaaa! []

Foto ilustrasi saja – Foto Pixabay 

#JPR, ajul19

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *