Burung pintar dari Papua

 

Papua merupakan pulau tropis yang kaya dengan flora dan fauna endemik. Salah satu fauna yang istimewa adalah burung bowerbird.

Burung ini banyak dijumpai di hutan hujan tropis Papua. Hanya dapat dijumpai di Papua, Papua Nugini dan Australia bagian utara.

 

Ciri khas burung ini adalah suka menghias sarangnya, sehingga orang Papua biasa menyebutnya burung pintar.

Bowerbird kalah populer jika dibandingkan dengan burung cenderawasih. Hal ini mungkin karena bulu bowerbird tak seindah bulu cenderawasih.

Tetapi jangan salah, yang membuat burung ini spesial adalah kebiasaannya mendekorasi sarang untuk menarik perhatian bowerbird betina. Para pejantan akan berkompetisi menampilkan sarang terbaik.

Sarang yang didekor ini–disebut juga bowers–terbuat dari ranting kayu kering serta dipenuhi dengan berbagai obyek warna-warni, misalnya bunga, buah, bahkan kaleng sarden atau barang curian dari manusia seperti potongan kain.

Semua obyek tersebut ditata dengan sangat rapi. Untuk menentukan pasangan kawinnya, bowerbird betina biasanya akan menilai sarang-sarang yang telah didekor oleh para pejantan dengan cara berjalan mengitari sarang-sarang tersebut.

Bowerbird jantan pembuat dan pendekor sarang yang paling berwarna-warni akan dipilih oleh betina sebagai pasangan kawinnya.

Sesudah masa kawin, bowerbird betina akan membuat sarang sendiri yang lebih sederhana dan memelihara anak-anaknya di sarang yang telah dibuatnya tersebut.

Keberadaan burung ini, sangat menarik turis asing. Kini muncul jenis wisata baru di Papua, yaitu wisata pengamatan burung (bird watching).

Pegunungan Arfak dan Raja Ampat di Provinsi Papua Barat merupakan dua wilayah yang sering dikunjungi turis untuk melihat burung ini.

Para turis harus menginap beberapa hari di hutan dalam pondok sederhana.

Jenis wisata ini rupanya telah memunculkan pekerjaan baru yaitu pemandu wisata (jungle guide) serta juru masak bagi turis atau lebih dikenal dengan jungle chief.

Berkaitan dengan wisata ini, pihak terkait perlu menetapkan spot-spot atau titik pengamatan burung yang diperbolehkan.

Hal ini bertujuan agar habitat asli burung tidak terganggu.

Selain itu, perlu pelatihan bahasa asing bagi pemandu atau lebih bagus lagi memberdayakan masyarakat setempat sebagai pemandu.

Turis hanya diperbolehkan menggambil gambar dengan kamera dan tidak boleh membuang sampah plastik di hutan.

Sebagai oleh-oleh bagi turis, mama-mama perajin noken dapat membuat noken dengan motif burung bowerbird. Jika perlu, turis harus membayar restribusi untuk mendukung konservasi dan penyelamatan hutan Papua. []

Foto: Tangkapan layar youtube – Animal Chanel

Penulis: Hari Suroto, peneliti di Balai Arkeologi Papua

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *