Bumi sebagai rumah bersama yang rusak (bagian 1/3)

Penulis: Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, biarawan Fransiskan Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua, Tinggal di Papua

0
200
hutan papua
Hutan di Boven Digoel, 2017 - Foto/Nanang Sujana/geckoproject.id

(Sebuah tinjauan Ensiklik Laudato Si’)

Krisis lingkungan hidup global mencakup berbagai bidang, antara lain, polusi udara, perubahan iklim, masalah air bersih, hilangnya keanekaragaman hayati dan berbagai masalah sosial terkait krisis dan bencana lingkungan tersebut. Perlu disadari bahwa, masalah lingkungan hidup tersebut sudah menjadi ancaman serius dan nyata bagi kehidupan pada umumnya maupun kehidupan manusia pada khususnya.

Itu berarti perubahan yang menyebabkan berbagai krisis dan masalah lingkungan hidup tersebut adalah perbuatan kriminal, sebuah kejahatan terhadap kehidupan dan kejahatan terhadap lingkungan manusia.

Polusi udara dan perubahan iklim

Polusi udara yang berdampak pada berbagai masalah kesehatan, hal ini terutama terjadi pada orang-orang miskin dan berujung pada kematian. Jatuh sakit karena sering menghirup udara yang sudah dikondisikan oleh asap bahan bakar. Polusi yang mengganggu semua orang, yang disebabkan oleh transportasi, asap industri pada pabrik-pabrik, pupuk dan herbesida pada umumnya.

Teknologi di satu sisi memberi solusi yang baik untuk memecahkan masalah-masalah ini, tetapi di sisi lain tidak dapat melihat hubungan yang ada dalam berbagai hal, yang pada akhirnya memecahkan satu masalah dan menciptakan masalah baru yang lain.

Hal lain yang perlu diperhatikan yakni pencemaran yang disebabkan oleh limbah, termasuk limbah yang sangat berbahaya yang hadir dalam berbagai daerah di dunia ini. Setiap tahun dihasilkan ratusan juta ton limbah, yang sebagian besar tidak membusuk secara biologis: limbah domestik dan perusahaan, limbah pembongkaran bangunan, limbah klinis, elektronik dan industri, limbah yang sangat beracun dan radioaktif.

Bumi, rumah kita, semakin terlihat sebagai sebuah tempat pembuangan sampah yang besar. Di banyak tempat di dunia, orang lansia (lanjut usia) mengeluh bahwa lanskap yang pernah indah sekali sekarang ditutupi dengan sampah.

Limbah industri maupun bahan kimia yang digunakan di kota dan daerah pertanian dapat menyebabkan akumulasi dan kerusakan pada organisme penduduk lokal, juga bila kadar racun di tempat itu masih rendah. Sering kali baru diambil tindakan ketika kerusakan permanen kesehatan masyarakat telah terjadi (Paus Fransiskus: 2015, hal 17).

Sebenarnya masalah-masalah yang diutarakan di atas ini, punya kaitan erat dengan budaya “membuang” yang menyangkut, baik orang yang dikucilkan, maupun barang yang cepat habis dan seterusnya dijadikan sampah. Contohnya, bahwa sebagian kertas yang diproduksi dan kita gunakan sebagai kebutuhan, terkadang terbuang dan tidak dapat di daur ulang lagi dan masih banyak contoh lain.

Disadari bahwa sistem industri kita belum mampu menciptakan sistem produksi yang berkesinambungan, yang mampu melestarikan sumber daya untuk generasi sekarang dan yang akan datang, membatasi penggunaan sumber daya yang tidak terbarukan, menggunakannya dengan secukupnya, dengan cara menggunakan kembali dan daur ulang.

Memperhatikan dengan serius masalah-masalah ini menjadi salah satu cara mengatasi budaya “membuang” yang akhirnya mempengaruhi seluruh bumi ini. Tetapi perlu menyadari dan mengakui bahwa kemajuan dalam hal ini masih jauh dari yang diharapkan terjadi.

Iklim adalah salah satu sisi kesejahteraan umum, milik semua orang dan untuk semua. Pada tingkat dunia, iklim pada dasarnya merupakan suatu sistem yang kompleks, terkait dengan berbagai ketentuan untuk kehidupan manusia itu sendiri. Sebuah kajian ilmiah saat ini menunjukkan bahwa dunia ini sedang mengalami pemanasan yang merongrong sistem iklim.

Dalam beberapa tahun ini, terjadi kenaikan yang cukup tinggi pada permukaan laut. Di banyak tempat terjadi cuaca yang ekstrem (tidak menentu musimnya). Melihat persoalan seperti ini, manusia dipanggil untuk perlunya revolusi gaya hidup, produksi dan konsumsi.

Ada juga faktor lain yang mempengaruhi iklim ini (seperti aktivitas gunung berapi, perubahan orbit bumi, siklus matahari), namun dalam penelitian ilmiah akhir-akhir ini menunjukkan, bahwa pemanasan global terjadi sebagian besar diakibatkan oleh konsentrasi gas rumah kaca (karbon dioksida, metana, nitrogen oksida dan lain-lain), yang pada dasarnya disebabkan oleh aktivitas manusia. Faktor lain yang menentukan adalah banyaknya perubahan dalam penggunaan tanah, terutama deforestasi untuk keperluan pertanian dalam skala besar(baca: Paus Fransiskus, Ensiklik Laudato Si’ Tetang, hal, 18).

Pemanasan global yang terjadi saat ini, mempunyai efek yang buruk bagi kelangsungan hidup manusia, seperti kekurangan air minum dan kehilangan beberapa spesies dari keanekaragaman hayati di bumi ini. Mencairnya es di kutub mengakibatkan pelepasan gas metana yang sangat berbahaya.

Hal ini disebabkan oleh hilangnya hutan tropis yang pada dasarnya dapat mencegah terjadinya perubahan iklim. Ini merupakan masalah serius yang harus diperhatikan oleh manusia.

Kenyataan paling nyata saat ini ialah naiknya permukaan air laut, pada dasarnya dapat menyebabkan situasi yang sangat sulit, jika kita sadar bahwa sebagian besar penduduk dunia tinggal di wilayah pantai dan kebanyakan kota besar terletak di daerah pesisir.

Perubahan iklim merupakan masalah global dengan dampak buruk untuk lingkungan, masyarakat, ekonomi, perdagangan dan politik. Ini merupakan salah satu tantangan utama yang dihadapi umat manusia pada zaman kita.

Dampak terburuk mungkin akan dirasakan dalam beberapa dekade mendatang oleh negara-negara berkembang. Banyak orang miskin tinggal di wilayah-wilayah yang paling dipengaruhi oleh pelbagai gejala yang terkait dengan pemanasan bumi, sementara penghidupan mereka sangat tergantung pada cadangan alam dan jasa ekosistem seperti pertanian, perikanan, dan kehutanan.

Mereka tidak memiliki sumber keuangan atau sumber daya lain yang memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan perubahan iklim atau bencana alam, dan akses mereka memperoleh perlindungan dan pelayanan sosial sangat terbatas. Misalnya, hewan dan tumbuhan yang tidak bisa beradaptasi dengan perubahan iklim, akan terdorong untuk bermigrasi; ini pada gilirannya memengaruhi kehidupan orang miskin, yang kemudian terpaksa meninggalkan rumah mereka, dengan ketidakpastian yang besar bagi masa depan mereka dan anak-anak mereka (Chayono: 2015, hlm 23).

Sudah ada peningkatan tragis dalam jumlah migran yang berusaha melarikan diri dari kemiskinan yang makin parah, akibat kerusakan lingkungan. Mereka tidak diakui sebagai pengungsi oleh konvensi internasional; mereka menanggung kerugian atas penghidupan yang mereka tinggalkan, tanpa mendapat perlindungan hukum apa pun.

Sayangnya, ada ketidakpedulian global terhadap tragedi yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia. Kurangnya tanggapan terhadap tragedi yang dialami saudara-saudari kita menunjukkan hilangnya rasa tanggung jawab untuk sesama kita, yang menjadi dasar setiap masyarakat sipil.

Masalah air

Air minum segar merupakan topik yang paling penting, karena sangat dibutuhkan untuk kehidupan manusia dan untuk mendukung ekosistem di daratan dan perairan. Sumber-sumber air tawar diperlukan untuk perawatan kesehatan, pertanian, dan industri.

Persediaan air dahulu relatif stabil, tetapi sekarang di banyak tempat permintaan melebihi pasokan yang berkelanjutan, dengan konsekuensi dramatis untuk jangka pendek dan panjang. Kota-kota besar yang membutuhkan cadangan air yang besar, telah mengalami masa-masa kekurangan air, yang pada saat kritis itu tidak selalu mendapat pasokan dengan pengawasan yang tepat dan tidak memihak.

Kurangnya air untuk masyarakat umum terutama terjadi di Afrika di mana sebagian besar penduduk tidak mempunyai akses ke air minum yang aman, atau mengalami kekeringan yang menghambat produksi pertanian. Di beberapa negara ada daerah yang memiliki air melimpah, sedangkan yang lain menderita kekurangan cukup parah. (baca: Paus Fransiskus, Ensiklik Laudato Si’ Tetang, hal, 22-23).

Masalah kualitas air yang tersedia bagi orang miskin menyebabkan banyak kematian setiap hari. Karena banyak ditemukan penyakit dari air yang ada di kalangan mereka, termasuk disebabkan oleh zat-zat kimia dari pabrik-pabrik besar. Penyakit-penyakit itu antara lain disentri dan kolera.

Ini terjadi karena sumber air yang ada di dalam tanah sudah menjadi kotor oleh kegiatan pertambangan, pertanian yang berskala besar, industri, dsb. Hal ini terutama terjadi di negara-negara tanpa peraturan dan pengawasan yang memadai.

Sementara kualitas air yang tersedia terus berkurang, di beberapa tempat ada tren makin kuat ke arah privatisasi sumber daya yang terbatas ini, mengubahnya menjadi barang dagangan yang tunduk pada hukum pasar.

Sebenarnya, dunia kita mempunyai hutang sosial yang serius kepada orang miskin yang tidak memiliki akses ke air minum, karena mereka tidak diberi hak untuk hidup sesuai dengan martabat yang tak dapat dicabut dari mereka.

Hutang ini dapat dibayar sebagian dengan meningkatkan dana untuk menyediakan air bersih dan layanan sanitasi bagi yang termiskin. Namun pemborosan air terlihat bukan hanya di negara maju tetapi juga di negara-negara kurang berkembang yang memiliki cadangan air yang besar.

Hal ini menunjukkan bahwa masalah air sebagian merupakan masalah pendidikan dan kebudayaan, karena tak ada kesadaran akan keseriusan perilaku itu dalam konteks ketidakadilan yang besar.

Hilangnya keanekaragaman hayati

Sumber daya bumi pun dijarah karena konsep ekonomi, perdagangan dan produksi jangka pendek. Hilangnya hutan dan vegetasi lainnya membawa serta hilangnya spesies yang dapat menjadi sumber daya yang sangat penting di masa depan, tidak hanya untuk makanan tetapi juga untuk penyembuhan penyakit dan penggunaan lainnya. Berbagai spesies mengandung gen yang bisa menjadi sumber daya kunci pada tahun-tahun mendatang untuk memenuhi kebutuhan tertentu manusia dan mengatur beberapa masalah lingkungan.(baca: Paus Fransiskus,Ensiklik Laudato Si’ Tetang, hal.33).

Namun tidak cukup untuk memikirkan berbagai spesies hanya sebagai sumber potensial untuk dieksploitasi, sambil di sisi lain melupakan kenyataan bahwa masing-masing memiliki nilai dalam dirinya sendiri.

Setiap tahun ada ribuan spesies tanaman dan hewan yang punah, dan tidak akan pernah muncul lagi. Karena kita, ribuan spesies tidak lagi memuliakan Allah. Atau barangkali kita mendengar tentang kepunahan burung, karena mereka ini lebih terlihat. Tetapi agar berfungsi dengan baik, ekosistem juga membutuhkan jamur, lumut, cacing, serangga, reptil, dan aneka mikro organisme yang tak terhitung.

Ada beberapa spesies yang mempunyai pengaruh dalam menjaga keseimbangan tempat tertentu. Tentu saja manusia harus melakukan intervensi ketika ekosistem memasuki keadaan kritis. Tetapi saat ini tingkat intervensi manusia dalam realitas alam yang sedemikian kompleks sudah sedemikian tinggi hingga bencana kontinu yang disebabkan oleh manusia, memerlukan respon baru dari dia.

Aktivitas manusia hadir di mana-mana, dengan segala risiko yang dibawa serta. Ini sering menciptakan lingkaran setan di mana intervensi manusia untuk menyelesaikan kesulitan itu, justru memperburuk situasi. Tetapi, kalau kita amati dunia, terlihat bahwa tingkat intervensi manusia, sering dalam konteks kepentingan bisnis dan konsumerisme, sebenarnya membuat bumi kita kurang kaya dan indah, semakin terbatas dan kehilangan warna, sementara kemajuan teknologi dan barang-barang konsumsi terus berkembang tanpa batas.

Kita tampaknya berpikir bahwa kita dapat menggantikan keindahan yang tak tergantikan dengan sesuatu yang kita buat sendiri.

Masalah lain yang dihadapi oleh kita saat ini ialah proyek yang biasanya dipertimbangkan efek atas tanah, air dan udara, tetapi pada kenyataannya tidak ada penelitian atas dampak terhadap keanekaragaman hayati, seolah-olah hilangnya spesies tertentu tidak terlalu penting.

Pembangunan jalan raya, perkebunan baru, bendungan dan bangunan lainnya, pada kenyataannya menduduki tempat-tempat di mana spesies-spesies dari hewan maupun tumbuhan yang tinggal di situ, sehingga spesies-spesies itu terancam punah dan hilang. Pada prinsipnya ada alternatif lain dalam menangani masalah ini ialah “penciptaan koridor biologis”, namun hanya sedikit negara yang mampu menunjukan kepeduliannya dengan menciptakan koridor biologis itu.

Merawat ekosistem mengandaikan pandangan melampaui yang instan, karena orang yang mencari keuntungan cepat dan mudah, tidak akan tertarik pada pelestarian alam. Namun, biaya kerusakan yang disebabkan oleh kelalaian egois itu jauh lebih tinggi daripada keuntungan ekonomis yang dapat diperoleh. Ketika spesies tertentu punah atau sangat terancam, nilainya tidak terhitung.

Kita dapat menjadi saksi bisu ketidakadilan mengerikan, ketika kita mengira dapat memperoleh keuntungan besar dengan membuat seluruh umat manusia, sekarang dan di masa depan, membayar biaya kerusakan lingkungan yang sangat tinggi.

Perlu diakui bahwa ada sebagian negara yang sudah mampu melindungi secara efektif tempat dan wilayah tertentu di daratan dan di lautan. Bersambung. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here