Bumi sebagai rumah bersama yang rusak (3/selesai)

Penulis: Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, biarawan Fransiskan Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua, Tinggal di Papua

0
183
Pantai di Jayapura
Salah satu kawasan pantiai di Kota Jayapura, Papua yang harus dijaga agar tetap indah - Foto/Timoteus Marten/lomes.id

Ada kesan bahwa negara-negara yang maju seringkali mengorbankan masa sekarang dan masa untuk berkembang bagi negara yang saat ini sedang berkembang. Seringkali perdebatan kebutuhan orang miskin dalam pertemuan-pertemuan atau diskusi-diskusi besar dikuasai oleh mereka yang mempunyai kepentingan dan kekuatan dalam mengambil keuntungan.

Paradigma teknokratis dan antroposentrisme modern

Masalah lain lebih mendasar dan mendalam terletak pada cara manusia mengambil teknologi dan perkembangannya dengan suatu paradigma yang seragam dan hanya dilihat dari satu sisi cara pandang tertentu.

Pada prinsipnya model ini mengedepankan konsep subyek yang dengan menggunakan cara yang masuk akal dan diterima secara rasional, tahap demi tahap mendekati dan mengontrol suatu obyek yang ada di luar sana.

Di sisi lain, subyek berusaha mengembangkan suatu cara ilmia yang melalui uji coba-uji coba yang sudah jelas merupakan suatu modus untuk menguasai.

Bila dikaji secara baik, maka seolah-olah subyek berada di hadapan suatu yang belum berbentuk, tersentuh, dan semua ini tersedia untuk sebuah proses manipulasi. Sekali lagi ditekankan bahwa gagasan ini pada dasarnya merupakan suatu kebohongan tentang persediaan sumber daya alam yang tak terbatas yang menyebabkan planet ini diperas habis-habisan (Harun: 2016, hal. 3).

Dapat dikatakan bahwa akar banyaknya masalah dunia saat ini terutama kecenderungan, yang tidak selalu disadari, untuk menjadikan metode dan tujuan ilmu-ilmu teknik sebagai paradigma pemahaman yang dipaksakan bagi kehidupan individu dan cara kerja masyarakat.

Efek dari penerapan paradigma itu pada seluruh realitas, manusia dan masyarakat, menjadi nyata dalam degradasi lingkungan, tetapi itu hanya satu tanda dari reduksionisme yang mempengaruhi kehidupan manusia dan masyarakat dalam semua dimensinya.

Perlu diakui bahwa produk-produk teknologi tidak netral karena mereka menciptakan kerangka kerja yang pada akhirnya membentuk gaya hidup, dan mengarahkan peluang-peluang dalam masyarakat ke arah kepentingan kelompok-kelompok berkuasa tertentu. Beberapa pilihan yang tampaknya hanya mengenai peralatan, dalam kenyataannya, adalah pilihan tentang jenis kehidupan sosial yang ingin dikembangkan (baca: Paus Fransiskus, Ensiklik Laudato Si’, hal, 83).

Perlu diakui bahwa paradigma teknologi sudah begitu mempengaruhi kehidupan masyarakat sehingga sulit untuk mengabaikan sumber dayanya dan yang lebih ekstrim ialah tanpa dipengaruhi oleh pikirannya.

Perlu disadari bahwa paradigma teknokratis ini juga cenderung untuk menguasai bidang ekonomi dan politik. Ekonomi pada dasarnya menerima setiap kemajuan teknologi yang membawa suatu keuntungan, tanpa memperhatikan dampak negatif dari cara itu.

Perlu juga diakui bahwa ada beberapa kalangan yang mempertahankan pandangan bahwa ekonomi dan teknologi sekarang ini akan menyelesaikan semua masalah lingkungan. Tetapi pada kenyataannya mengatasi dalam skala kecil dan menciptakan persoalan baru dalam skala besar.

Spesialisasi teknologi sendiri pada sisi lain sangat sulit untuk melihat keseluruhan dari seluruh ciptaan ini.

Di sisi lain, budaya ekologis tidak dapat direduksi menjadi serangkaian jawaban mendesak dan parsial atas masalah-masalah yang sedang muncul dalam kaitan dengan kerusakan lingkungan, menipisnya cadangan sumber daya alam, dan polusi.

Dibutuhkan cara pandang yang berbeda, cara berpikir, kebijakan, program pendidikan, gaya hidup dan spiritualitas, yang membangun daya tahan terhadap serangan paradigma teknokratis. Jika tidak, inisiatif-inisiatif ekologis yang terbaik pun akhirnya dapat terjebak dalam pola pikir global yang sama. Hanya mencari solusi teknis untuk masing-masing masalah lingkungan yang muncul, adalah mengisolasi hal-hal yang dalam kenyataan saling berhubungan, dan itu berarti menutupi masalah-masalah yang benar dan paling mendalam dari sistem global.

Dari semua ini, kita kembali kepada tujuan hidup kita. Pada dasarnya manusia itu memiliki kebebasan yang mampu membatasi teknologi dan mengarahkannya, demi menggunakannya untuk kemajuan yang lain, yang lebih sehat, lebih manusiawi, lebih sosial dan sampai pada suatu keutuhan yang baik. Akan tetapi, di sisi lain, orang tidak lagi percaya pada masa depan yang bahagia. Mereka tidak lagi menaruh kepercayaan yang buta kepada masa depan yang lebih baik, yang bersandar pada keadaan dunia ini dan kemampuan teknologi saat ini.

Apa yang sekarang sedang terjadi, mendesak kita untuk bergerak maju dalam sebuah revolusi budaya yang berani. Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak netral, tetapi dapat melibatkan, dari awal sampai akhir prosesnya, berbagai niat dan kemungkinan, dan dapat mengambil bentuk yang berbeda-beda.

Tidak ada yang menyarankan (kita) untuk kembali ke zaman batu, namun sangat penting untuk memperlambat langkah dan melihat realitas dengan cara lain, menyambut baik kemajuan yang positif dan berkelanjutan, dan pada saat yang sama memulihkan kembali nilai-nilai dan tujuan-tujuan agung yang hancur karena manusia menganggap dirinya besar tanpa adanya kendali (baca: Paus Fransiskus, Ensiklik Laudato Si’ hal, 88-89).

Antroposentrisme modern, secara berlawanan, akhirnya menaruh pola pikir teknis di atas realitas, karena manusia “tidak lagi merasakan alam sebagai norma yang berlaku, atau sebagai tempat berlindung yang hidup. Ia melihat alam tanpa prasyarat, sebagai objek, sebagai ruang dan bahan untuk dikerjakan. Segalanya dibuang ke situ, tidak peduli apa yang terjadi”. Dengan demikian, nilai yang ada pada dunia sendiri melemah.

Jika manusia tidak menemukan kembali tempatnya yang benar, ia tidak mengerti dirinya dan akhirnya membantah realitasnya sendiri: “Allah bukan saja mengaruniakan bumi kepada manusia, yang harus mengolahnya dengan mematuhi tujuan awal mengapa bumi itu dianugerahkan kepadanya, namun Allah juga mengaruniakan manusia kepada dirinya sendiri. Maka manusia wajib juga menghormati struktur kodrati dan moril yang telah diterimanya dari Allah” (baca: Yohanes Paulus II, Ensiklik Catensimus Annus).

Minimnya perhatian untuk menghitung kerugian terhadap alam dan mengukur dampak ekologis dari keputusan manusia itu merupakan tanda paling kelihatan kurangnya minat akan pesan yang ada dalam alam itu sendiri. Situasi seperti ini membawa kita manusia ke suatu gangguan proses berpikir dan tanggapan yang lemah atas alam ini, yang pada dasarnya bergerak dari pengagungan teknokrasi yang tidak mengakui nilai-nilai baik yang ada dalam alam ini dan dalam makhluk-makhluk lain di bumi ini (Aman: 2013, hal. 55).

Menurut Paus Fransiskus, sebuah antroposentrisme sesat tak perlu diganti dengan pemahaman yang benar bahwa bumi merupakan pusat seluruh ciptaan, karena itu akan berarti membawa ketidakseimbangan baru, yang bukan memecahkan masalah tetapi menambah masalah.

Manusia tidak dapat diharapkan melibatkan diri penuh hormat ke dalam dunia, jika tidak serentak ada pengakuan dan penghargaan terhadap kemampuannya yang unik berupa pengetahuan, kehendak, kebebasan, dan tanggung jawab serta kritik terhadap antroposentrisme yang salah sangat diperlukan sehingga tidak ada salah paham hubungan relasi antara sesama manusia.

Pada prinsipnya, semua hal itu saling berkaitan satu dengan yang lain, sehingga tidak bisa mengabaikan hidup alam dalam kehidupan manusia.

Ketika manusia menempatkan dirinya di pusat, ia akhirnya memberikan prioritas tertinggi kepada kepentingannya yang sesaat, dan semuanya yang lain menjadi relatif. Manusia melihat yang ada di luar dirinya (termasuk alam ciptaan) sebagai obyek yang dapat dijarah demi suatu kepentingan.

Karena itu, tidak mengherankan bahwa bersamaan dengan paradigma teknokratis yang dominan dan pemujaan kuasa manusia yang tak terbatas, berkembang suatu relativisme. Relativisme juga membuat orang melihat sesamanya sebagai obyek.

Antroposentrisme pada dasarnya mengantar manusia kepada cara hidup yang kurang baik.

Singkatnya budaya relativisme adalah penyakit yang sama, yang mendorong seseorang untuk mengeksploitasi sesamanya dan memperlakukannya sebagai obyek saja, dengan mewajibkannya untuk kerja paksa, atau memperbudaknya.

Permasalahannya terletak pada kenyataan campur tangan manusia untuk mengembangkan dunia ciptaan dengan cermat, adalah bentuk pemeliharaan yang paling tepat karena berarti bahwa kita memandang diri sebagai sarana Allah untuk membantu mewujudkan potensi yang telah Allah sendiri letakkan dalam segalanya: Tuhan membuat obat-obatan tumbuh dari bumi dan orang yang arif tidak mengabaikannya (Sir 38:4).

Setiap bentuk pekerjaan mengandaikan suatu pemahaman akan relasi yang dapat, atau harus dibangun dengan sesamanya. Memperkenalkan kerja tangan yang sarat akan makna rohani adalah revolusioner (baca: Paus Fransiskus, Ensiklik Laudato Si’ , hal. 98-99).

Kita belajar mematangkan dan menguduskan diri melalui interaksi antara permenungan dan pekerjaan.

Pekerjaan harus menjadi tempat pengembangan pribadinya dalam beberapa dimensi kehidupan yang penting: kreativitas, perencanaan masa depan, pengembangan bakat, penghayatan nilai-nilai, komunikasi dengan orang lain dan sikap memuji Allah.

Kerja adalah suatu keharusan, bagian dari makna hidup di bumi, jalan menuju pematangan, pengembangan manusia, dan perwujudan diri, sehingga mengantar manusia pada tindakan nyata dalam membantu orang miskin dengan uang: hanya sementara. Di sisi lain, agar dapat terus menyediakan lapangan kerja, sangat perlu mempromosikan ekonomi yang mendorong keragaman produksi dan kreativitas kewirausahaan. Selesai. []

Referensi

C. Aman, Peter. 2013. Iman Yang Merangkul Bumi-Mempertanggungjawabakan iman di Hadapan Persoalan Ekologi. Jakarta: Obor

Fransiskus, Paus. 2015. Ensiklik Laudato Si’ Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama. Jakarta: Obor

Paulus II, Yohanes. 1991. Ensiklik Catensimus Annus. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI


Chayono, Asep. Spiritual Ekologi Masyarakat Adat. Gita Sang Surya, No. 5, 2015

Harun, Martin. Belas Kasih Laudato Si’. Perantau, no. 5, 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here