Berlari di Tungkuwiri

Kau pasti su dengar lagu ini: “Tanah Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi.”

Lagu yang dipopulerkan Kaka Edo Kondologit ini menjadi kitong pu lagu favorit. Hingga hafal mati.

Saya tak menyebut satu persatu di sini surga-surga kecil itu. Sebut saja bukit ini.

Bukit ini seperti pagar di lembah. Kau berdiri di awal perjalanan. Pada sebuah puncak di perhentian pertama. Salib berdiri tegak dan memandang sejauh tangkapan mata.

Gundukan tanah memanjang. Punggungnya ditumbuhi ilalang hijau. Berpadu dengan air danau yang tenang dan rumah-rumah di tepian kanan.

Pada sisi lainya jalan berkelok lekuk. Itu jalan menuju Sarmi dan Lembah Grime Nawa. Ya, di tepian danau ini.

Namanya danau Sentani. Danau terluas di Papua dengan even tahunan Festival Danau Sentani ini tak puas-puasnya memanjakan mata. Salah satunya bukit ini.

Siapa yang pernah berjalan di puncak bukit yang panjang, dipagari ilalang hijau nan manja menyusuri jalanan setapak? Berlari santai di bukit yang panjang, digelitik ilalang dan angin sore? Di sinilah tempatnya.

Yauw Wally, orang asli Sentani, bilang bukit ini namanya Tungkuwiri. Tapi banyak orang menyebutnya Bukit Teletubies.

Saya tidak tahu hal-ihwalnya sehingga Teletubies diberikan kepada bukit, yang berada di Doyo Lama, Distrik Waibhu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua ini. Yang pasti nama itu disematkan karena keunikan dan keelokannya.

Setelah saya jalan-jalan ke laman google, ternyata ada juga nama Bukit Teletubies di beberapa daerah. Misalnya di Nusa Penida, Bali, Gunung Bromo dan Blitar di Jawa Timur, dan di Suluk Sulawesi Tengah.

Screenshot_20180906-041151.pngYa, tiap tempat memang beda kekhasannya. Bukit ilalang di Kabupaten Jayapura ini unik. Punggung bukitnya ditumbuhi ilalang dan rerumputan hijau. Bila ditiup angin dari kejauhan seperti rambut bidadari.

Beberapa pondok juga dibangun di sini. Semacam “perhentian” saat ibadah jalan salib. Meleseh dan jeda di pondok.

Saya memandang ke arah bukit, di atasnya, jalan setapak tempat mereka yang menyukai jalan kaki dan trekking.

Punggung bukit yang panjang membuat mata enggan terpejam meski dibelai angin. Sejauh pandangan mata, saya seperti melihat kuda raksasa di tepian danau yang berada di lereng Pegunungan Cycloop ini. Bagian ekor kuda itu di sini: tempat salib berdiri tegak.

Di lembahnya, sisi kiri atau di sebelah timurnya, pepohonan sagu berdiri dengan gagahnya, kota Sentani, kawasan Doyo, rumah-rumah warga di tepi danau, dan pulau-pulau mungil.

Saban pekan orang-orang berdatangan. Mereka mau berfoto, trekking, atau sekadar menikmati udara sore, dan panorama alam yang eksotis. Misalnya Minggu siang, 2 September 2018.

Meski cuaca tak bersahabat dengan “Bumi Khenambay Umbay”, animo masyarakat tak bisa dibendung mendung. Mereka berlarian, memfoto dan tampak tenggelam dalam belaian sang keindahan.

Sore ini memang beda. Gerimis yang jatuh tak sulutkan semangat kami dan sejumlah pengunjung lainnya.

Perjalanan pulang tak terasa. Hingga seperempat jam kemudian tiba di Sentani kota. Lalu menuju Distrik Heram, Kota Jayapura bersama hujan.

Mobil melaju cepat, menangkis pukulan hujan. Sesekali menetes melalui jendela yang tidak dikunci rapat-rapat. Meski begitu kami tak sampai basah.

Sekadar diketahui, tak dipungut karcis ataupun sejenisnya memasuki kawasan ini. Karena memang tak dijumpai warga atau semacam petugas.

Itu artinya pemerintah atau masyarakat setempat belum melihat Tungkuwiri sebagai peluang ekonomi.

Di pintu masuk, di belakang tiga buah salib, pada sisi kanan, sebelum memulai pendakian, hanya ditemui seorang warga, yang menjual makanan ringan dan noken.

Pun tak ada jasa parkir. Motor-motor bahkan bisa mencapai “lutut” bukit, tempat pondok pertama, di sisi kanan berdiri.

Dua tahun lagi momen akbar, Pekan Olahraga Nasional kedua puluh, dihelat di Papua. Salah satu stadion dibangun di Jayapura, tak jauh dari Bukit Teletubies.

Ribuan orang dari tiga puluh empat provinsi di Indonesia akan berbondong-bondong ke sini. Objek-objek wisata eksotis, misalnya, akan menjadi salah satu oleh-oleh mereka saat pulang. Mereka ‘kan mengisahkan tempat yang dikunjungi, yang memukau.

Pilihannya, kita mengelolanya dengan baik dan mendatangkan pendapatan untuk warga dan daerah, atau hanya sekadar berbangga.

Teletubies sebenarnya satu dari banyak objek kunjungan favorit masyarakat. Terutama di Kabupaten Jayapura. Ada juga Kampung berkerikil halus di Tablanusu dan Pantai Amai, Distrik Depapre.

Tak kalah juga pemandian Kali Biru di Genyem, Tugu Mc Artur di Ifar Gunung, danau Love di Distrik Sentani Timur, Kampung Asei, kampung dengan lukisan kulit kayunya, serta situs-situs sejarah dan religi di tanah terberkati ini. Mau lari-lari santai di Tungkuwiri? (*)

#Jpr awal Sept l. 2018

Caotion: Foto-foto di atas merupakan tangkapan layar dari video yang dibuat penulis

Facebook Comments

One thought on “Berlari di Tungkuwiri”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *