Bidikan rupiah dari lensa kamera

Santai di pantai sambil bermain ombak dan pasir itu lumrah. Memotret orang-orang dan suasana pantai juga tidak jarang. Yang jarang adalah menjadikan kegiatan memotret sebagai sumber penghidupan.

Dalam keseharian kita pasti melihat orang-orang seperti itu. Gendong kamera lalu foto orang-orang. Dapat uang dan menghidupkan istri dan anak.

Kamera dan ketelatenannya adalah uang. Kepercayaan dan momen adalah peluang. Bidikan lensanya adalah kesenian. Waktunya tak kan terbuang sedetik pun.

Mencari penghidupan dengan usaha foto bukan perkara mudah. Apalagi hidup di kota Jayapura, yang biaya hidupnya termahal kedua setelah Mama Kota Jakarta.

Tapi Laurensius Duhu mengambil risiko itu. Laurensius berasal dari Cibal Barat. Sejauh 42 kilometer ke arah utara dari Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, Pulau Flores.

Dia merantau ke Papua persis usai krisis moneter, referendum Timor Lorosae, dan kejatuhan Soeharto, lalu awal masa reformasi. Ketika itu Laurensius bekerja sebagai karyawan swasta di salah satu studio foto di Jayapura.

Suatu kesempatan dia mengikuti bosnya untuk memfoto para wisudawan/i dan saat yudisium. Praktis di bilangan Abepura, Distrik Abepura.

Dia mengikuti bos sambil belajar. Memfoto sambil belajar. Belajar sambil memfoto. Semacam pengejawantahan ungkapan “learning by doing“.

Setelah menekuninya, Laurensius tertarik pada pekerjaan yang satu ini. Untuk mendapatkan kamera DSLR tidaklah mudah.

Butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan modal demi membeli kamera. Tahun 2008, dia nekad beli kamera.

Padahal saat memulai usaha ini, dia baru saja menikahi gadis asal Pulau Jawa, dan mengarungi bahtera rumah tangga dalam ikatan sakramen perkawinan Katolik.

Keberanian, keyakinan, kemauan, dan kerja keras membuat dia memilih “mata lensa” sebagai profesi dan usaha. Tiap bidikan kamera harus menghasilkan penghidupan. Itu spiritnya.

“Hanya modal kamera awalnya dulu. Beli background buku sekitar Rp 8 juta,” katanya kepada saya akhir pekan lalu di Jayapura

Dia sadar betul nasihat orang tua melalui ungkapan (go’et) “dempul wuku tela toni“.

Dempul (tumpul), wuku (kuku) tela (terbelah) toni (punggung) merupakan nasihat orang-orang tua untuk bekerja keras dan tekun. Apalagi hidup di perantauan, yang 90 persen kehidupannya adalah “sengsara”. Santai dan lengah berarti kawan dari maut.

“Sering-sering cari info jadwal wisuda atau yudisium di tiap kampus. Kadang lobi di panitia untuk dokumentasi,” katanya.

Satu kali order biasanya Laurensius mendapat sekitar Rp 4 juta. Satu album 10 sheet foto dan video dokumentasi. Kadang ditaksir Rp 3 juta untuk paket upacara keluarga (suku) atau kenalan.

Pesanan atau orderan memang tidak menentu saban bulan. Sekira dua sampai tiga kali saja. Malah pernah hanya satu kali orderan. Jika ditaksir penghasilan didapat sekira Rp 4 juta sampai Rp 8 juta sebulan.

Ketekunan dan kerja keras sejak sebelas tahun silam, membuat bapak tig anak ini, bisa membuat rumah di kawasan Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura.

Persaingan dalam jasa foto begitu tinggi. Kota Jayapura merupakan pusat administrasi Provinsi Papua. Dengan penduduk sekira 290-an ribu, tentu menjadikan kota ini sangat ramai.

Ditambah lima belasan perguruan tinggi, puluhan hotel, dan sekolah-sekolah, serta toko dan mal. Hotel-hotel biasanya menjadi tempat dilangsungkan pernikahan, acara-acara dan rapat kantoran.

“Persaingan tinggi makanya saya tidak pasang layar,” kata pemilik toko fotokopi I-one Foto ini.

I-one Foto studio yang dibangunnya menerima pesanan paket foto nikah, prewedding, wisuda, yudisium, rapat kantoran, dan berbagai seremonial lainnya.

Dia belum menentukan harga orderan. Hal itu akan dilakukan usai menemukan kata sepakat. Baginya, yang penting adalah soal kepercayaan dan integritas.

Bapak tiga anak ini memahami betul bahwa foto bukan soal gambar, tapi sebuah seni atau fotografi. Bagus tidaknya hasil jepretan terhadap suatu objek, tergantung kreativitas, insting seni, angle dan momen yang dibidik.

Dia berpesan agar anak-anak muda Manggarai, dan Jayapura pada umumnya, harus berani untuk menekuni hobi menjadi pekerjaan profesional, bahkan menjadikannya sebagai pundi-pundi rupiah atau usaha. Membangun kota Jayapura dimulai dari anak-anak muda dengan mempergunakan talenta yang dimilikinya. []

Foto: Laurensius, pemilik I-one foto bersama istri dan anak sulungnya – IST

#JPR, dusejul19

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *