Beri judul?

1
381
kopi - lomes
Antara pelangi di awal gerimis, pun purnama di akhir musim, begitulah cara hadirmu - Foto/Pixabay.com

Setelah musim menumpuk rindu kau hadir mengisi kenangan. Ini hanya cerita kita berdua. Yang diam-diam pernah menjalin hubungan tanpa pernah dinyatakan dahulu.

Mungkin kau akan merasa ini sedikit aneh. Namun, harus kita akui bersama. Ini memang nyata. Soal aku dan kau yang kemudian kau sebut “kita bedua”.

Cinta itu tumbuh ketika mata tak pernah henti-hentinya melihat cantikmu. Ketika mulut tak pernah henti-hentinya memuji cantikmu. Ketika hati tak pernah henti-hentinya mau untuk berpaling pada yang lain.

Namun, aku minta maaf. Mungkin, aku salah memilihmu. Sebab, ada yang lebih baik dan lebih mencintaimu daripada diriku. SSS

Jika kau masih terus mencintai senja, kumohon, hentikanlah. Senja itu tak pernah seabadi cantikmu.

Matahari semakin merapat ke barat. Aku masih saja terjaga dalam lamunanku. Wajahnya masih menghantuiku. Aku sangat mencintainya, bahkan tak bisa berpisah darinya. Apakah tak ada cara lain untuk mencintainya?

Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku ketika sebuah pesan masuk pada android-ku.

“Aku ingin bertemu denganmu sekarang. Kita akan bertemu di kafe Kopi Mane jam 17.00 WIT. Sampai nanti.”

Begitulah isi pesan singkat itu. Tanpa menunggu lama lagi, aku pun segera menyiapkan diri. Antara pelangi di awal gerimis, pun purnama di akhir musim, begitulah cara hadirmu.

Tepat pukul 17.00 WIT aku melaju di sepanjang jalanan kota Ruteng, tepatnya jalan menuju kafe Kopi Mane. Ketika aku sampai, aku melihatnya telah duduk dengan pakaiannya yang rapi.

“Hai Riko. Sudah lama yah kamu di sini?” sahutku dengan terbata-bata dan langsung duduk di sebelahnya.

“Hai Mey. Tidak. Barusan saja aku sampai. Mungkin sekitar lima menit lebih cepat darimu tadi.” Sahutmu.

“Baiklah. Sudah pesan minumannya? Kalau belum, aku pesan dulu ya?’

“Ah, Mey. Tak usah repot-repot. Aku hanya mau melepaskan sore ini, dengan melihat cantikmu saja dengan tak henti-hentinya.”

Aku sedikit kaget ketika mendengar jawabannya. Sungguh. Ia adalah orang yang paling hangat menurutku.

“Mey. Apakah kau benar-benar mencintaiku?” katamu

“Tentu saja. Ada apa sebenarnya?” jawabku dengan sedikit keraguan.

“Ah, tidak. Aku hanya mau bertanya saja. Begitupun dengan diriku. Aku sangat mencintaimu.” sahutmu.

Ternyata kau hanya mau mengatakan itu. Sore itu, kita berdua duduk semanis-manisnya dan berbicara sehangat-hangatnya ditemani kopi dan kemesraan hingga waktu berkata untuk kembali.

Namun, ada yang membuat diriku cukup sedih setelah itu. Kau tahu? Semenjak hari itu kita tak pernah bertemu lagi. Tak pernah berbicara berduaan lagi. Aku tak pernah tahu. Dimanakah engkau? Kau tak pernah menghubungiku.

“Dimanakah engkau?” Sahutku dalam hati.

Namun, takdir berkata lain. Kita bertemu lagi. Tentang kemarin aku masih menyimpan kenangan dan rindu di bawah hujan yang gelisah penuh tanya pada temaram senja.

“Mey? Apakah kau sudah siap?” Sahut ibu yang tiba-tiba sekarang berada di kamarku.

“Ah. Ibu? Ya. Aku sudah siap, Bu. Mari! Sekarang kita keluar. Mungkin orang banyak telah menungguku.” Sahutku dengan terbata-bata yang barusan saja sadar dari lamunanku.

Hari ini adalah hari bahagia kita. Kau nampak sangat rapi dengan jas hitam yang kau kenakan. Entah mengapa?

Namun hatiku begitu gembira melihat dirimu, Kekasih. Kau pun mempersilakan aku untuk duduk di sampingmu di depan pintu rumah Tuhan.

Aku sangat malu saat itu, sebab kau terus saja menggoda diriku di depan ayah dan ibuku serta ayah dan ibumu dengan kalimat puitismu.

Namun, ada sedikit hal yang membuat hatiku kacau, saat kau berdiri dan menjabat tangan seorang lelaki dengan ba-jubah-nya. Lalu kau menyapanya.

“Selamat datang sobat. Apakah kau telah siap?” Sahutnya.

”Ah Romo. Tentu saja aku telah siap.,Mey. Perkenalkan ini adalah Romo Riko.” Katamu.

“Kau tak harus menungguku usiaku terlampau singkat untuk kau miliki.”

Terinspirasi dari puisi Hams Hama, “Kepada April”. []

Penulis: Angelo Cefreeco Dirpa Syukur, siswa SMA Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur, Flores, NTT

1 KOMENTAR

  1. Menarik untuk dibaca.makna mendalam. Sebuah refleksi kehidupan yang mungkin bisa dijadikan bermakna bagi ziarah peradapan.

Tinggalkan Balasan ke Robert Syukur Batal balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here