Belajar toleransi dari Fakfak

Dalam budayanya, masyarakat Fakfak, Papua Barat sangat toleran. Hal ini tercermin dari filosofi satu tungku tiga batu.

Posisi masing-masing batu teratur, untuk menopang sebuah periuk tanah liat. Sehingga jika salah satu batu berubah posisi atau hilang maka tidak bisa digunakan untuk memasak.

Arti filosofi ini adalah masyarakat Fakfak sangat toleran terhadap perbedaan. Dalam satu keluarga besar, biasanya anggota keluarga berbeda agama, tetapi mereka tidak pernah konflik. Sejak zaman dahulu, masyarakat Fakfak terbuka dengan masyarakat baru yang datang dari luar.

Masyarakat Fakfak sangat menghormati dan menghargai orang lain.

Berbagai persoalan akan diselesaikan secara adat melalui mekanisme musyawarah adat.

Pada abad ke-17, pedagang muslim dari Bugis, Makassar, Ternate, Tidore sudah datang di Fakfak, mereka berdagang serta berdakwah.

Bahkan pada abad ke-18, pedagang Tionghoa dan pedagang Arab juga datang ke wilayah ini.

Selain berdagang, pedagang Tionghoa dan Arab ini juga membuat pemukiman.

Masjid Patimburak di Kampung Patimburak, Distrik Kokas, juga mencerminkan filosofi satu tungku tiga batu. Masjid ini dibangun pada tahun 1800-an secara gotong royong antara keluarga muslim dibantu oleh keluarga Katolik dan keluarga Kristen Protestan.

Filisofi satu tungku tiga batu merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat Fakfak. Filosofi ini perlu digali kembali, dan perlu diajarkan di sekolah-sekolah.

Filosofi Satu Tungku Tiga batu dapat digunakan sebagai bentuk pendidikan literasi digital guna menangkal berkembangnya hoaks. []

Foto: dok penulis/lomes.id

Penulis: Hari Suroto, peneliti di Balai Arkeologi Papua

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *