Bangsa beradab, bangsa yang menghargai hukum

Sidang Mahkamah Konstitusi (MK) tentang sengketa pemilihan presiden (pilpres) 2019, yang disiarkan secara langsung oleh beberapa TV swasta tertentu, sangat luar biasa. Betapa sidang ini dengan seluruh perilaku, pertanyaan, jawaban dan pernyataan yang terjadi di dalamnya, telah memberikan pencerahan luar biasa kepada semua warga yang mengikuti proses sidang.

Ada yang sangat serius, penuh wibawa, ada sindiran dan candaan, ada interupsi singkat, pertanyaan bersifat informatif dan problematis, ada yang kebelet pipis, bergaya kaca mata hitam, ada yang susah untuk on off mic, dan lain-lain.

Semua yang hadir di MK tentu sungguh merasakan bagaimana atmosfir ruangan sidang MK ini, ketika sidang sudah dibuka dan berproses. Terima kasih untuk semua yang ada di MK, karena sudah sangat hebat mengajar dan mendidik tentang makna peradaban bangsa ini.

Terkesan bahwa sidang sangat tertib, teratur dan terukur. Sudah pasti ini terjadi karena ada regulasi yang mengatur tata persidangan .

Substansi perkara, uji bukti, uji kepatutan saksi, uji pernyataan dan jawaban saksi sungguh dipahami, bahwa ke MK berarti sudah siap untuk ditanyakan dan sudah siap untuk memberi jawaban.

Para hakim dengan sangat lihai menggiring pertanyaan atau jawaban yang sudah di luar teks dan konteks apa yang dipersoalkan.

Hiruk-pikuk di medsos (media sosial) tentang mana bukti data yang valid dan kredibel, kini sudah terang-benderang di hadapan publik, dari kesaksian para saksi yang hadir dan barang bukti yang menyertainya.

Serva ordinem et ordo servabite, peliharalah aturan, maka aturan akan memelihara anda, kian kentara dalam sidang MK ini. Yang tidak dan bahkan terkesan tidak teratur dengan sigap segera ditertibkan oleh hakim MK.

Keteraturan dan ketertiban proses berpikir, berpendapat dan bersikap di MK juga dipertaruhkan karena para hakim MK sungguh kukuh, kuat menegakan wibawa pengadilan, wibawa konstitusi.

Keteraturan dan ketertiban seperti ini tentu didambakan oleh semua warga. Warga ingin aman dan nyaman menjalani proses kehidupannya.

Diancam, diteror, dibohongi, dikibuli, dipersekusi, diperkosa, dibunuh, berita bohong, dan ujaran kebencian sudah dengan jelas diketahui tidak sesuai dengan tata tertib kehidupan. Jika hal-hal ini dihayati dan diamalkan oleh semua warga NKRI, maka warga NKRI kian beradab.

Sudah pasti negara dengan semboyan bhineka tunggal ika ini akan terus dan tetap lestari selamanya, karena semuanya sudah melek hukum. Semua taat asas dan taat regulasi.

Sekecil apapun regulasi yang sudah disepakati dan dengan penuh ketekunan menjalankannya, niscaya semua pasti baik-baik saja. Melanggarnya sudah pasti pula sudah melanggar hukum.

Memahami seluruh proses di MK kali ini, hematku negeri ini sudah menjadi bangsa yang beradab. Semua ingin peradaban bangsa semakin maju dan terus maju sampai budaya hidup sejahtera lahir dan batin itu ada dan membatin dalam diri semua warga bangsanya. Optimistis Indonesia maju pasti tercipta. []

Foto: Ilustrasi suasana sidang lanjutan sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi – suara.com/Antara

Penulis: Geradus Wen, PNS di Dinas Pendidikan Kabupaten Mappi, Papua

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *