Bahasa Manggarai vs bahasa Indonesia

Saya iseng-iseng suatu kesempatan. Menulis sejumlah kosakata. Bahasa Manggarai dan bahasa Indonesia. Apa yang terjadi?

Iseng-iseng itu kemudian berbuah pada tulisan ringan. Dibumbui sedikit senyum. Lalu jadi tawa. Direspons kawan-kawan dan sodara-sodara dorang. Satu per satu mereka mengirim kata. Jadilah tulisan ringan ini.

Sebelumnya saya juga iseng-iseng dan akhirnya menjelmakan tulisan Bahasa Fiji mirip bahasa Manggarai.

Rasa-rasanya sa terlalu fanatik pada daerah asal saya, iyo? Tidak. Saya menulis untuk berbagi; menulis tentang apa yang saya tahu.

Ini mungkin lebih tepat disebut catatan sepanjang jalan kenangan. Mengurai harapan demi harapan dalam kata-kata: agar tidak sirna.

Bagi segelintir orang di bawah kolong langit, menulis tidak hanya sekadar rutinitas ataupun pekerjaan dan berbagi pengetahuan, tetapi juga terapi ingatan. Sambil mendambakan harapan.

“Aeh, kau ka Ignasius,” kata sa pu kawan suatu kesempatan.

Ai mama Miaeee, introduksi kelamaan ka ini. Lama-lama jadi basi ini tulisan.

Alright! Mari kita membaca dan merenung. Lalu pulang dalam damai ke rahim imaji. Hening.

Dalam hening, sambil membaca beberapa kata bahasa Manggarai dan bahasa Indonesia. Kebetulan punya bunyi, kata, dan aksen yang sama, tapi artinya sangat berbeda.

Saya merangkum beberapa dari apa yang saya tahu dan omong saban hari, serta bantuan KBBI daring untuk memastikan kebenaran arti dan makna kata bahasa Indonesia yang dimaksud.

Soal bahasa Manggarai, tentu apa yang saya tulis adalah menurut dialek saya, Manggarai tengah di bagian barat, tepatnya kecamatan Lelak.

Daerah Kecamatan Lelak merupakan kawasan perbukitan dan pegunungan. Ini adalah kecamatan pemekaran dari Kecamatan Ruteng. Lelak berada di sekitar kawasan Welak, Kolang, Lembor, Kabupaten Manggarai Barat dan Satarmese, dan Ruteng/Rahong, Kabupaten Manggarai, sehingga dialek atau logat pun dipengaruhi oleh daerah-daerah tersebut.

Berikut kata-kata bahasa Manggarai yang sama dengan kata bahasa Indonesia tapi artinya beda.

1. Helo-halo = melihat di sekitar (Mgr)
Helo halo = menyapa (Idn)

2. Laki = menikah, jantan/jago (Mgr)
Laki= pria (Idn)

3. Lentang = terpental, beo daku Lentang (Mgr)
Lentang = terbaring, terletak, dsb. (Idn)

4. Kali = padahal (Mgr)
Kali = sungai (Idn)

5. Saung = daun (Mgr)
Saung = dangau, gubuk di kebun (Idn)

6. Rona = suami (Mgr)
Rona = warna, air muka atau wajah (Idn)

7. Barat = tanah datar di bawah kaki bukit atau lereng (Mgr)
Barat = arah mata angin (Idn)

8. Wai = kawin keluar utk perempuan, kaki (Mgr)
Wai= kata seru untuk menyatakan terkejut, heran (Idn)

9. Berat = perut buncit (Mgr)
Berat = bobot, ukuran (Idn)

10. Bang = berburu/mencari, misal, bang lawo/mencari tikus (Mgr)
Bang = sapaan untuk kakak laki-laki (Idn)

11. Rantang = takut (Mgr)
Rantang = panci bersusun atau tertutup untuk makanan yg dilengkapi tangkai (Idn)

12. Sapi = menyiangi rumput (dialek Kolang, Kuwus)
Sapi = hewan bernama sapi berkaki empat memamah biak (Idn)

13. Pala = merantau, mencari nafkah (Mgr)
Pala (Idn) =
1.pohon besar yang tingginya mencapai 20 meter, bercabang banyak, bentuk pohonnya seperti kerucut (Myristica fragrans), buah batu yang berdaging kuning muda kehijau-hijauan untuk dibuat manisan, berbentuk bulat lonjong dan beralur memanjang, bijinya dibuat bumbu penyedap atau ramuan obat
2. pala= prakategorial cari: sepala-pala

14. Tèko= ubi talas (Mgr)
Teko = Cerek dari tembikar untuk air dsb (Idn)

15. Lena=kemarau (Mgr)
Lena= lalai (Idn)

16. Wali = jawaban/respon, terbalik (Mgr)
Wali (Idn) =
* orang yang menurut hukum (agama, adat) diserahi kewajiban mengurus anak yatim serta hartanya, sebelum anak itu dewasa:
* orang yang menjadi penjamin dalam pengurusan dan pengasuhan anak:
* orang yang memiiki wewenang untuk menikahkan seorang perempuan, baik gadis maupun janda
*orang saleh (suci); penyebar agama
* kepala pemerintah dan sebagainya

17. Mama=mengunyah (Mgr)
Mama=ibu (Idn)

18. Bapa = bodoh (Mgr)
Bapa = bapak, ayah (Idn)

19. Pasar = merintih, meronta-ronta karena kesakitan (Mgr)
Pasar = tempat jual-beli (idn)
20. Bangka = bekas, mengutuk (Mgr)
Bangka = tua sekali/renta (Idn)
21. Tara = muka, bentuk, wujud (Mgr)
Tara (idn)=
1. Yang sama (tingkatnya, kedudukannya, dan sebagainya); banding(an); imbangan
2. selisih antara berat bruto dan neto: berat bruto 100 kg, neto 90 kg
3. potongan harga barang yang dinyatakan dengan persen (uang, bobot) dengan pengganti pembungkusnya (petinya dan sebagainya): tiap peti diperhitungkan
4. alat dari kayu yang berpaku untuk membuat garis pada kayu
5. gambaran; angan-angan; imaji:

22.Lelap= terbang (Mgr)
Lelap= tidur nyenyak (Idn)

23. Langkas= nama kampung di kecamatan Ruteng, tinggi (Mgr)
Langkas (Idn) =
1.gugur karena sudah cukup matang (tentang buah-buahan dan sebagainya);
2.berakhir musim buah-buahan.

24. Dari = berjemur pada pagi hari (dari leso). Familiar dalam ungkapan compang bate dari (Mgr).

Dari= kata depan, asal, dll. (Idn).

Sedangkan di bawah ini kiriman beberapa kawan di grup facebook Tawa Te Joak Wajo Ga dan Gendang Lentang di grup whatsapp.

Kiriman Riki:
25. Toko = tidur (Mgr)
Toko= tempat (Idn)

26. Gula = pagi (Mgr)
Gula = bahan pemanis yang berbentuk kristal (Idn)

27. Galang = tempat kasih makan babi, palungan, nama kampung di Kecamatan Welak, Manggarai Barat (Mgr)
Galang= barang yang dipasang melintang (Idn)

28. Buru= angin (Mgr)
Buruh= pekerja (Idn)

29. Kekat= senapan berburuh (Mgr)–biasanya terbuat dari kawat atau besi kecil.
Kèkat= daun-daunan yang terapung dalam air (Idn)

Kiriman Sebastianus Gersoni Bantrang:
30. Wokat = tombak yang ujungnya menyerupai mata kail atau kekat dalam ukuran kecil. Namun kekat untuk binatang kecil seperti tikus, musang, dll. (Mgr)
Wokat = buah alpukad (Mgr)
Vokad = buah alpulad (Idn)

31. Darat = bidadari, kata seru untuk mengungkapkan rasa kaget, heran, takjub (Mgr)
Darat = permukaan bumi yg tidak tertutupi oleh air (Idn)

Kiriman Ignasius Suradin:
32. Cuat = mengeluarkan nanah dalam bisul atau benjolan, mengeluarkan usus dan bagian dalam perut binatang (Mgr)
Cuat/mencuat = menganjurkan, memanjang ke depan (Idn)

Beberapa di bawah ini juga kiriman anggota grup facebook;

Yuvensius Janggat:
33. Toko = tulang, tidur (Mgr)
Toko = rumah tempat jualan (Idn)

Sang Prabu:
34. Kode = kera, monyet (Mgr)
Kode= kata sandi atau nomor sandi (Idn)
35. Mata = meninggal (Mgr)
Mata = alat indra untuk melihat (Idn)

Ibeth Elvina N:
36. Seng = uang (Mgr)
Seng = atap rumah (Idn)

Yuven Kahu:
37. Molor = sopan/beretika/baik (Mgr)
Molor = tunda/buang-buang waktu (Idn)

Kornelya L. Wells:
38. Behas= putus, terurai (Mgr)
Behas = mengurai secara detail (Idn)
39. Bete = putus (Mgr)
Bete = bosan
40. Lari= sedang, going on dalam bahasa Inggris (Mgr)
Lari: langkah seribu (Idn)

TheArch Nana:
41. Jera= suruh, menyuruh (Mgr)
Jera=tobat/tidak melakukan lagi (Idn)

42. Gerak = terang (Mgr)
Gerak = bergerak (Idn)

43. Dunia= pada waktu mana/kapan (Mgr)
Dunia=bumi (Idn)

44. Lambang = cacing (Mgr)
Lambang = simbol/tanda (Idn)

45. Tanda= tes; untuk mengetahui cita rasa masakan atau apakah sudah matang untuk buah (Mgr)
Tanda =patok (Idn)

46. Kaka= binatang (Mgr)
Kaka= antonim adik (Idn)

Herman Barus:
47. Sosok= bujuk (Mgr)
Sosok= tokoh/figur (Idn)

Kosakata Manggarai, meski ada kemiripan atau kesamaan dengan bahasa Indonesia seperti ulasan di atas, ternyata tidaklah sama arti atau maknanya. Saya yakin masih banyak kata yang belum terdokumentasi dengan baik di sini dan bisa disempurnakan.

Meski demikian, bahasa Manggarai punya sumbangsih untuk bahasa Indonesia, seperti pada kata dureng.

Di Manggarai, musim penghujan disebut dureng; hujan terus-menerus alias tanpa henti sepanjang minggu, bahkan bulan (sekitar Desember-April). KBBI mendefinisikan dureng, yaitu, musim di Flores yang ditandai dengan turun hujan setiap hari, siang dan malam.

Selain dureng, lingko adalah sumbangan kearifan lokal Manggarai untuk model transportasi di Jakarta, tepatnya Jak Lingko, yang diprogramkan oleh Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Anies Baswedan untuk mengurai kemacetan.

Dalam tradisi Manggarai lingko merupakan kebun komunal. Dibagi berdasarkan panga (semacam klan, marga). Praktis posisi (dalam pembagian), diurutkan sesuai panga.

Misalnya, saya punya bagian sudah pasti berdekatan dengan adik saya, sepupu, dan seterusnya. Batasnya antarpemilik, yang ditarik jari-jari dari pusat (lodok) disebut langang.

Robert M.Z. Lawang (1999) dalam bukunya “Konflik Tanah di Manggarai, Flores Barat” menyebutkan bahwa lingko adalah semua tanah yang dimiliki satu wa’u (keluarga) yang tinggal di dalam satu golo (kampung).

Definisi tersebut di atas ditarik dengan memperhatikan elemen-elemen (hlm.41), seperti; 1) Setiap wa’u di Manggarai mempunyai tanah; 2) Tanah-tanah yang dimiliki wa’u ini, dinamakan lingko bagi mereka yang tinggal di Manggarai-lodok dan daerah pendukungnya; 3) Setiap lingko punya nama. Biasanya dinamai sesuai dengan hal, kejadian, atau apapun yang menonjol di tempat tersebut. Misalnya ada nama Lingko Ka karena dulu di lokasi itu banyak burung ka atau gagak (Corvus corax); 4) Lingko-lingko memiliki batas-batas yang jelas, seperti kali, pohon, batu, dll; 5) Tidak setiap lingko digarap tiap musim panen.

Bentuk lingko menyerupai sarang laba-laba raksasa (spider web). Bagian tengah (pusat) disebut lodok dan bagian luarnya disebut cicing.

Pada lodok biasa ditancapkan kayu teno atau haju teno (Melochia arborea). Di beberapa daerah di Nusantara juga terdapat haju teno, dengan bahasa daerahnya masing-masing, misalnya betenuh (Palembang), binteru (Bali), busi (Timor), muhutu (Ternate) atau nguhutu (Halmahera Utata), dan lain-lain.

Pembagian lingko biasanya dilakukan oleh tua teno sebagai penanggung jawab. Lingko yang membulat dengan pusat (lodok) dan menyerupai spider web ini, menurut Lawang (hlm 39) diinspirasi dari bentuk bukit.

Jika berdiri di puncak bukit dan menatap ke lembah, maka seperti itulah bentuk lingko: pusat di puncak dan lingkaran lembah atau kaki bukit untuk bagian luarnya. Bentuk lingko dengan lodok-nya juga menjadi gambaran bentuk kampung dan rumah adat (mbaru niang).

Biasanya jika ada kampung dengan perangkat adatnya, pasti ada lingko. Ditandai sebutan (filosofi) gendangn one lingkon peang (kampung di dalam kebun di luar); dimana ada kampung di sana ada lingko.

Sebuah kampung dengan perangkat adatnya memiliki lingko (uma bate duat), mata air (wae bate teku), compang bate dari (semacam mesbah undakan batu di tengah-tengah kampung yang ditanami pohon dadap atau haju kalo/Erythrina variegata), mbaru bate kaeng (rumah untuk bernaung), dan natas bate labar (kampung halaman tempat bermain).

Baca juga:

Selain lingko atau kearifan lokal dan sumbangsihnya pada bahasa Indonesia, nama Manggarai juga menjejakkan sejarahnya pada kawasan bagian selatan Jakarta. Di kawasan Tebet, Jakarta Selatan terdapat stasiun Manggarai.

Di kawasan itu, sekitar tahun 1770-an ditempatkan budak (taki mendi) yang diperjualbelikan dari Manggarai di Flores Barat.

Menurut beberapa literatur yang pernah saya baca, budak-budak itu dibawa (dijual) melalui pelabuhan Reo (Manggarai Utara), Kerajaan Bima dan Kerajaan Goa, kepada Belanda di Batavia (kini Jakarta). Untuk mengenang daerah asalnya, mereka yang menjadi taki mendi tadi tetap menamai kawasan tersebut dengan nama Manggarai di Pulau Flores.

Saya masih ingat ketika pelajaran muatan lokal saat SD. Ketika itu guru saya mengatakan, bahwa orang-orang Manggarai di Batavia hingga awal abad 20 masih menggunakan beberapa kosakata bahasa Manggarai. Saat bertamu misalnya, mereka masih menggunakan salam khas atau sapaan tabeo ite dan dijawab mai ge ite oleh pemilik rumah.

Hingga kini konon peninggalan Manggarai di Batavia (Jakarta) itu hanya nama Manggarai dan tarian lenggo yang menjadi tarian khas Betawi.

Beberapa kawan saya di daerah lain di Flores sangat cepat mempelajari bahasa Manggarai. Bahkan tidak sampai hitungan tahun, mereka sudah bisa berbahasa Manggarai.

Saya tidak tahu faktor apa yang membuat mereka dengan mudah bisa menangkap (hafal) bahasa Manggarai. Apakah karena bahasa yang dituturkan penduduk tiga kabupaten di Flores barat ini (Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur), merupakan rumpun bahasa Austronesia (Melayu-Polinesia)?

Yang pasti bahasa Manggarai itu mudah dipelajari dan enak didengar, kawan!

Aktor Nicholas Saputra pada 5 Mei 2010, bahkan pernah menulis dengan baik kata neka rabo yang artinya minta maaf.

Selain itu, ada Ivan Lanin, pendiri Lingua Bahasa yang menulis kata tolong (campe), maaf (neka rabo), dan terima kasih (tiba teing, wali di’a), 4 Januari 2019 di laman twitternya @ivanlanin.

Jauh sebelum mereka, misionaris-misionaris barat telah lebih dulu jatuh cinta pada bahasa Manggarai di Flores hingga dibuatkan kamus, dan Gereja Katolik dengan inkulturasinya menerjemahkan buku-buku lagu rohani dan doa berbahasa Manggarai, seperti Dere Serani, Surak Ngaji Manggarai, dan lain-lain. []

Foto: Lingko di Cancar, Kecamatan Ruteng, Flores – Phinemo

#Jpr9919

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *