Bahasa Manggarai, MP, Bindo dan bahasa lain

Kampung Lentang

Foto: Ise so’o cuki baju bakok taungs agu cuki towe songke du manga upacara adat one beo daku (Mereka ini memakai baju putih semua dan memakai kain songke saat ada upacara adat di kampungku) – dokpri/fb

Saya menulis status atau postingan dalam bahasa Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur pada Selasa sore, 22 Oktober 2019.

Demikian postingannya:

 “Cuki baju bakok taung ise sot one tiwi #tevemusimlantikdanpilihmenteri“.

Artinya mereka yang ada di teve memakai baju putih semua.

Kawan saya lalu merespons melalui candaan agar kata cuki tidak seharusnya ada dalam postingan itu. 

Konteks postingan ini adalah saya sedang menonton televisi, tepatnya Kompas TV, sambil minum kopi dan rokok.

Dalam berita-berita di televisi, sejumlah politisi dan profesional memang dipanggil ke istana kepresidenan Republik Indonesia. 

Mereka yang dipanggil Presiden Joko Widodo atau Jokowi itu menggunakan baju putih, kecuali Kapolri Tito Karnavian yang kemudian menjadi Menteri Dalam Negeri, ketika menghadap istana masih gagah dengan seragam khas bhayangkaranya baju cokelat.

Kembali ke kata cuki tadi. Postingan saya lalu dikomentari, tentu saja dengan candaan, bahwa kata itu bisa jadi dianggap bermakna “tabu” atau “cabul”. 

Lalu saya menjawab dengan candaan. Bahwa kata tersebut adalah bahasa Manggarai. Jika itu bahasa Indonesia-Papua atau Melayu Papua (MP), maka saya akan dibui karena mungkin disangka melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Hehehe, tes tooooo.

Tentu saja kawan-kawan yang berkomentar tadi itu orang Manggarai, yang tinggal di Papua dan pernah tinggal di Papua.

Bagi orang-orang yang tinggal di Papua, kehadiran kata cuki dalam postingan di atas memang terdengar aneh dan berkesan “cabul” atau “tidak etis”. Dan karenanya tidak seharusnya ditulis untuk dibaca banyak orang.

Jadi, bisa dimaklumi jika ada pendapat kawan-kawan seperti demikian meski memang disampaikan lewat candaan dan melahirkan gelak tawa.

Baca juga:

Saya lantas tergelitik untuk menjelaskan beberapa kata bahasa Manggarai, yang kadang-kadang ditafsir dan bermakna baik di satu sisi, tapi tidak baik di sisi lain.

Hal ini terutama jika terdapat kesamaan dengan bahasa daerah lain atau bahkan bahasa prokem dan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu rakyat Indonesia.

Perihal kehadiran kata cuki dan beberapa kata bahasa daerah saya (Manggarai), tentu berbeda maknanya jika diucapkan dalam konteks bahasa daerah-daerah lain atau bahasa Indonesia (bindo).

Selain kata cuki, ada juga kata lae yang memang harus diakui bahwa itu terkesan aneh bagi orang Manggarai. 

Saya akan menerangkan konteks dan penggunaan kata cuki dan lae dalam kehidupan sehari-hari. 

Pertama, cuki. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, kata cuki artinya permainan seperti main dam atau permainan cuki, sedangkan dalam bahasa Indonesia dialek Papua atau kerap disebut Melayu Papua (MP), kata cuki artinya berhubungan seks, bercinta atau “baku naik”.

Dalam bahasa Manggarai, kata cuki artinya memakai. Misalnya; cuki baju artinya memakai baju, cuki liong artinya siapa yang memakainya (baju atau celana, dll).

Contoh lain juga, misalnya; cuki le hau kat baju/deko ho’o (kau pakai saja baju/celana ini–singular, so’o–plural).

Jadi, kalimat “cuki baju bakok taung ise sot one tiwi” bila diterjemahkan kata per kata menjadi cuki (memakai), baju (baju), bakok (putih), taung (semua, habis), ise (mereka), so (dibaca so’o artinya ini), one (di dalam, ke dalam, kapan), dan tiwi (teve atau TV). 

Dari terjemahan itu menjadi kalimat tidak baku (terjemahan lurus–kata per kata) adalah “memakai baju putih semua mereka ini di dalam televisi” atau kalimat yang lebih baku “mereka (semua) yang ada di televisi ini memakai baju putih“.

Sedangkan turunan kata cuki dalam konteks percakapan yang lebih sarkas atau umpatan untuk orang-orang berbahasa Manggarai, misalnya, cukimai, cukaminyak atau pukadana, dan pukimbilek;

Kedua, lae. Lae dalam bahasa atau percakapan orang Batak (Sumatera Utara) artinya bang atau memanggil saudara yang sebaya, tetapi untuk Batak Tapanuli–kalau saya tidak salah–sebenarnya lae berarti ipar.

Dalam bahasa Manggarai, kata lae berarti umpatan kepada laki-laki atau pria (verba), dan alat kelamin jantan (nomina).

Kata lae dalam bahasa Manggarai diucapkan agak kental atau kedengaran seperti ada penekanan. Seperti ada tanda koma (‘) di atas huruf a dan e (apostrof), sehingga dibaca atau diucapkan menjadi la’e bukan lae meski ditulis lae.

Berbeda dengan kata lae dalam bahasa Batak yang sering saya dengar sehari-hari. Pengucapan lae dalam bahasa Batak tidak ada penekanan dan lebih halus (datar).

Maka dalam kehidupan sehari-hari saya menghindari penggunaan kata lae jika berkomunikasi dengan orang-orang atau kawan asal Batak, agar tidak salah sebut atau “keseleo lidah“.

Apalagi jika ada orang-orang Manggarai (Flores) di sekitar saya, yang tentu saja mereka tersenyum dan marah ketika mendengar kata lae tersebut.

Jika kita jalan-jalan ke google map, ditemukan nama kota Lae di negara Papua Nugini (PNG).

Lae merupakan kota terbesar kedua setelah Port Moresby, ibu kota negara itu. Lae berada di pantai utara Papua Nugini. 

Sedangkan di Sulawesi Selatan terdapat nama Pulau Lae-lae dan Situs Lae-lae di perairan Samalona. Situs Lae-lae merupakan cagar budaya dan peninggalan Perang Dunia II di Makassar, Sulawesi Selatan.

Aihhh, saya lupa mau bahas apa lai setelah dua kata tadi. Saya menyudahi saja tulisan ini. Selamat bulan bahasa dan sekiranya kawan-kawan lebih mencintai bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. []

#Jprdt1019

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *