Ada udang di Gua Togece Jayawijaya

Tim peneliti Balai Arkeologi Papua dalam penelitian di Situs Gua Togece, Kampung Parema, Distrik Wesaput, Kabupaten Jayawijaya, Papua, menemukan udang endemik Lembah Baliem.

Di bagian dalam Gua Togece terdapat sumber air tawar jernih, bagian dalam gua ini sangat gelap, tidak ada sinar matahari sama sekali.

Sumber air tawar di dalam gua ini merupakan kumpulan air yang menetes dari stalagtit.

Udang endemik ini berukuran 1 – 1,5 cm, berwarna transparan sehingga bagian organ dalam udang terlihat.

Dalam kondisi gelap inilah, udang ini bisa hidup.

Berdasarkan penelusuran informasi di masyarakat sekitar gua, menyebutkan bahwa udang tersebut hanya terdapat di dalam Gua Togece saja.

Selain itu, udang yang ditemukan dalam gua sangat jauh berbeda dengan udang endemik Sungai Baliem yang berukuran besar yang selama ini dikenal, udang dari Sungai Baliem merupakan sejenis lobster air tawar, masyarakat menyebutnya dengan istilah udang selingkuh, sepintas bertubuh udang tetapi bercapit besar seperti capit kepiting.

Tim Balai Arkeologi Papua dalam penelitian di Situs Gua Togece untuk mencari hunian awal prasejarah di Lembah Baliem.

Potensi udang selingkuh

Lembah Baliem, walaupun berada pada ketinggian 1.650 mdpl, memiliki potensi sumberdaya perikanan yang belum dikembangkan. Sungai Baliem memiliki udang endemik, udang selingkuh, yang sebenarnya merupakan sejenis lobster air tawar.

Udang selingkuh harganya sangat mahal, walaupun begitu, udang ini sangat digemari turis.

Setiap turis yang berkunjung ke Wamena, pasti selalu mencari udang ini.

Udang selingkuh merupakan potensi tersembunyi Lembah Baliem, yang belum dikembangkan.

Jika hanya mengandalkan hasil tangkapan dari Sungai Baliem, dikhawatirkan udang ini lama kelamaan akan habis.

Untuk itu perlu, penelitian agar udang ini bisa dikembangkan dan dibudidayakan di kolam.

Walaupun mahal, udang ini sangat unik, enak, dan tetap akan dicari oleh turis.

Dengan membudidayakan di kolam, diharapkan kesejahteraan masyarakat Baliem akan meningkat. []

Penulis: Hari Suroto, peneliti di Balai Arkeologi Papua

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *